Ada seorang manusia yang bertemu dengan setan di waktu subuh. Entah bagaimana awalnya, akhirnya mereka berdua sepakat mengikat tali persahabatan. Ketika waktu subuh berakhir dan orang itu tidak mengerjakan shalat, maka setan pun sambil tersenyum bergumam, "Orang ini memang pantas menjadi sahabatku..!"
Begitu juga ketika waktu dzuhur orang ini tidak mengerjakan shalat, setan tersenyum lebar sambil membatin, " Rupanya inilah bakal teman sejatiku di akhirat nanti..!"
Ketika waktu ashar hampir habis tetapi temannya itu dilihatnya masih juga asik dengan kegiatannya, setan mulai terdiam......
Kemudian ketika datang waktunya magrib, temannya itu ternyata tidak shalat juga, maka setan nampak mulai gelisah, senyumnya sudah berubah menjadi kecut. Dari wajahnya nampak bahwa ia seolah-olah sedang mengingat-ngingat sesuatu.
Dan akhirnya ketika dilihatnya sahabatnya itu tidak juga mengerjakan shalat Isya, maka setan itu sangat panik. Ia rupanya tidak bisa menahan diri lagi, dihampirinya sahabatnya yang manusia itu sambil berkata dengan penuh ketakutan, "Wahai sobat, aku terpaksa memutuskan persahabatan kita !"
Dengan keheranan manusia ini bertanya, "Kenapa engkau ingkar janji bukankah baru tadi pagi kita berjanji akan menjadi sahabat ?".
"Aku takut !", jawab setan dengan suara gemetar.
"Nenek moyangku saja yang dulu hanya sekali membangkang pada perintah-Nya, yaitu ketika menolak disuruh sujud pada Adam, telah dilaknat oleh Allah SWT; apalagi engkau yang hari ini saja kusaksikan telah lima kali membangkang untuk bersujud pada-Nya. Tidak terbayangkan olehku bagaimana besarnya murka Allah kepadamu !", kata setan sambil ngeloyor pergi.
Semoga Bermanfaat
Wassalamualaikum wr.wb
Sunday, July 17, 2011
Saturday, July 16, 2011
Kentut Unta Perparah Pemanasan Global?
PERHIMPINAN ilmuwan tingkat dunia yang bergerak di bidang penelitian dan pengembangan unta, Senin kemarin, bereaksi keras atas rencana pemerintah Australia yang akan membunuh unta liar dengan alasan gas di dalam perut hewan itu menambah parah pemanasan global.
’’Gagasan tersebut palsu dan dungu. Penyimpangan ilmu pengetahuan,’’ demikian tudingan International Society of Camel Research and Development (ISOCARD).
Kelompok ilmuwan itu mengatakan, unta dijadikan “kambing hitam” untuk masalah yang dibuat manusia. “Kami percaya orang yang berhati baik dan rakyat Australia yang berinovasi, dapat menyampaikan penyelesaian yang lebih baik dan lebih cerdas dibandingkan dengan memusnahkan unta dengan cara yang tak manusiawi,” katanya.
Saran untuk membunuh unta dilontarkan di dalam dokumen yang dibagikan oleh Department of Climate Change and Energy Efficiency di Australia, sebagai bagian dari konsultasi untuk mengurangi cetak biru karbon di negeri tersebut.
Rancangan itu adalah gagasan dari satu perusahaan komersial yang berpusat di Adelaide, yang mengusulkan untuk mendera unta liar sebagai imbalan bagi kredit karbon.
Jumlah Unta
Unta didatangkan ke Outback pada Abad XIX guna membantu pemukim awal menangani kondisi kering dan panas.
Sekarang jumlah hewan itu adalah 1,2 juta ekor, dan sebagian orang mengatakan, “menjadi wabah” karena kerusakan yang ditimbulkannya.
Setiap unta, dilaporkan, sama dengan satu ton karbon dioksida (CO2), gas utama penyebab pemanasan global, setiap tahun.
Northwest Carbon menyatakan, organisasi tersebut akan menembak unta dari helikopter atau mengumpulkan hewan itu sebelum mengirimnya ke rumah jagal untuk dikonsumsi oleh manusia atau hewan peliharaan.
Tapi ISOCARD, perhimpunan dengan lebih dari 300 peneliti yang bermarkas di Al Ain University di Uni Emirat Arab (UAE), menyatakan perhitungan itu tak masuk akal.
“Perkiraan tentang buangan metana oleh unta dilandasi atas perhitungan data ternak,” kata ISOCARD di dalam siaran persnya.
“Efisiensi metabolis dari unta jauh lebih tinggi dibandingkan yang dihasilkan ternak lain. Unta dapat menghasilkan susu 20 persen lebih banyak dengan mengonsumsi makanan 20 persen lebih sedikit.
Hewan tersebut memiliki sistem pencernaan berbeda dan lebih efisien dalam pemanfaatan bahan kasar yang berkualitas rendah,” kata organisasi ilmuwan tersebut.
Selain itu, pencernaan hewan itu lebih dekat dengan hewan monogasterik, seperti babi, dan bukan seperti lembu atau kambing.
“Oleh karena itu, perkiraan mengenai buangan gas metana unta, sangat bisa diperdebatkan, seperti juga perkiraan populasi unta liar,” katanya. Menurut organisasi ini, semua unta di dunia (28 juta) adalah kurang dari satu persen dari biomassa pemakan sayur-mayur, dan buangan gas hewan tersebut hanyalah sekelumit gas yang dikeluarkan oleh hewan ternak.
“Unta liar mesti dipandang sebagai sumber yang tak bisa dibandingkan di lingkungan hidup yang kering,” kata organisasi itu. “Hewan tersebut dapat dan mesti dieksploitasi sebagai bahan pangan (daing dan susu), kulit, daya tarik pariwisata dan lain-lain,” katanya
’’Gagasan tersebut palsu dan dungu. Penyimpangan ilmu pengetahuan,’’ demikian tudingan International Society of Camel Research and Development (ISOCARD).
Kelompok ilmuwan itu mengatakan, unta dijadikan “kambing hitam” untuk masalah yang dibuat manusia. “Kami percaya orang yang berhati baik dan rakyat Australia yang berinovasi, dapat menyampaikan penyelesaian yang lebih baik dan lebih cerdas dibandingkan dengan memusnahkan unta dengan cara yang tak manusiawi,” katanya.
Saran untuk membunuh unta dilontarkan di dalam dokumen yang dibagikan oleh Department of Climate Change and Energy Efficiency di Australia, sebagai bagian dari konsultasi untuk mengurangi cetak biru karbon di negeri tersebut.
Rancangan itu adalah gagasan dari satu perusahaan komersial yang berpusat di Adelaide, yang mengusulkan untuk mendera unta liar sebagai imbalan bagi kredit karbon.
Jumlah Unta
Unta didatangkan ke Outback pada Abad XIX guna membantu pemukim awal menangani kondisi kering dan panas.
Sekarang jumlah hewan itu adalah 1,2 juta ekor, dan sebagian orang mengatakan, “menjadi wabah” karena kerusakan yang ditimbulkannya.
Setiap unta, dilaporkan, sama dengan satu ton karbon dioksida (CO2), gas utama penyebab pemanasan global, setiap tahun.
Northwest Carbon menyatakan, organisasi tersebut akan menembak unta dari helikopter atau mengumpulkan hewan itu sebelum mengirimnya ke rumah jagal untuk dikonsumsi oleh manusia atau hewan peliharaan.
Tapi ISOCARD, perhimpunan dengan lebih dari 300 peneliti yang bermarkas di Al Ain University di Uni Emirat Arab (UAE), menyatakan perhitungan itu tak masuk akal.
“Perkiraan tentang buangan metana oleh unta dilandasi atas perhitungan data ternak,” kata ISOCARD di dalam siaran persnya.
“Efisiensi metabolis dari unta jauh lebih tinggi dibandingkan yang dihasilkan ternak lain. Unta dapat menghasilkan susu 20 persen lebih banyak dengan mengonsumsi makanan 20 persen lebih sedikit.
Hewan tersebut memiliki sistem pencernaan berbeda dan lebih efisien dalam pemanfaatan bahan kasar yang berkualitas rendah,” kata organisasi ilmuwan tersebut.
Selain itu, pencernaan hewan itu lebih dekat dengan hewan monogasterik, seperti babi, dan bukan seperti lembu atau kambing.
“Oleh karena itu, perkiraan mengenai buangan gas metana unta, sangat bisa diperdebatkan, seperti juga perkiraan populasi unta liar,” katanya. Menurut organisasi ini, semua unta di dunia (28 juta) adalah kurang dari satu persen dari biomassa pemakan sayur-mayur, dan buangan gas hewan tersebut hanyalah sekelumit gas yang dikeluarkan oleh hewan ternak.
“Unta liar mesti dipandang sebagai sumber yang tak bisa dibandingkan di lingkungan hidup yang kering,” kata organisasi itu. “Hewan tersebut dapat dan mesti dieksploitasi sebagai bahan pangan (daing dan susu), kulit, daya tarik pariwisata dan lain-lain,” katanya
Subscribe to:
Posts (Atom)