ok

?>
RSS
Showing posts with label islami. Show all posts
Showing posts with label islami. Show all posts

Sunday, July 17, 2011

Ketika Setan Merasa Takut ...

Ada seorang manusia yang bertemu dengan setan di waktu subuh. Entah bagaimana awalnya, akhirnya mereka berdua sepakat mengikat tali persahabatan. Ketika waktu subuh berakhir dan orang itu tidak mengerjakan shalat, maka setan pun sambil tersenyum bergumam, "Orang ini memang pantas menjadi sahabatku..!"

Begitu juga ketika waktu dzuhur orang ini tidak mengerjakan shalat, setan tersenyum lebar sambil membatin, " Rupanya inilah bakal teman sejatiku di akhirat nanti..!"

Ketika waktu ashar hampir habis tetapi temannya itu dilihatnya masih juga asik dengan kegiatannya, setan mulai terdiam......

Kemudian ketika datang waktunya magrib, temannya itu ternyata tidak shalat juga, maka setan nampak mulai gelisah, senyumnya sudah berubah menjadi kecut. Dari wajahnya nampak bahwa ia seolah-olah sedang mengingat-ngingat sesuatu.

Dan akhirnya ketika dilihatnya sahabatnya itu tidak juga mengerjakan shalat Isya, maka setan itu sangat panik. Ia rupanya tidak bisa menahan diri lagi, dihampirinya sahabatnya yang manusia itu sambil berkata dengan penuh ketakutan, "Wahai sobat, aku terpaksa memutuskan persahabatan kita !"

Dengan keheranan manusia ini bertanya, "Kenapa engkau ingkar janji bukankah baru tadi pagi kita berjanji akan menjadi sahabat ?".

"Aku takut !", jawab setan dengan suara gemetar.

"Nenek moyangku saja yang dulu hanya sekali membangkang pada perintah-Nya, yaitu ketika menolak disuruh sujud pada Adam, telah dilaknat oleh Allah SWT; apalagi engkau yang hari ini saja kusaksikan telah lima kali membangkang untuk bersujud pada-Nya. Tidak terbayangkan olehku bagaimana besarnya murka Allah kepadamu !", kata setan sambil ngeloyor pergi.

Semoga Bermanfaat
Wassalamualaikum wr.wb

Friday, June 17, 2011

Cak Nur :"Pengalaman Mistik Kaum Sufi"

Prof. Dr. NURCHOLISH MADJID (Allahuyarham)

Minggu lalu, Prof Annemarie Schimmel --seorang tokoh kaliber dunia, ahli Islam dari Jerman-- menyampaikan tiga orasi ilmiah mengenai Tasawuf (Sufisme) di Jakarta. Kunjungannya disambut dengan penuh minat oleh para pecinta Tasawuf. Oleh karena itu, ada baiknya jika kita sedikit merefleksikan arti tasawuf dan kehidupan kaum Sufinya dalam orientasi keagamaan kita.

Nabi Muhammad s.a.w. sering disebut sebagai seorang Rasul yang paling berhasil dalam mewujudkan misi sucinya. Bukti yang biasa dipakai untuk mendukung penilaian itu ialah hal-hal yang bersifat sosial-politik, khususnya dalam bentuk keberhasilan ekspansi-ekspansi militer. Dan Nabi Muhammad s.a.w., sama halnya dengan beberapa Nabi yang lain seperti Musa dan Dawud a.s., adalah seorang ''Nabi Bersenjata'' (Armed Prophet), sebagaimana dikatakan oleh sosiolog terkenal, Max Weber.

Oleh karena kenyataan itu, ada sementara ahli yang hendak mereduksi misi Nabi Muhammad s.a.w. sebagai tidak lebih daripada suatu gerakan reformasi sosial, dengan program-program seperti pengangkatan martabat kaum lemah (khususnya kaum perempuan dan budak), penegakan kekuasaan hukum, usaha mewujudkan keadilan sosial, tekanan kepada persamaan umat manusia (egalitarianisme), dan lain-lain. Dalam pandangan mereka yang parsial itu, Nabi Muhammad s.a.w. tidak bisa disamakan dengan Nabi `Isa al-Masih, karena ajaran Nabi Muhammad tidak banyak mengandung kedalaman keruhanian pribadi. Mereka berpendapat bahwa Nabi Muhammad s.a.w. lebih mirip dengan Nabi Musa a.s. dan para Rasul dari kalangan anak turun Nabi Ya`qub (yang bergelar Isra-El), yang mengajarkan tentang betapa pentingnya berpegang kepada hukum-hukum Taurat (Talmudic Law).

Padahal, di samping segi sosial-politik itu, Islam --seperti ditunjukkan dalam Al-Qur'an-- juga banyak menegaskan pentingnya orientasi keruhanian yang bersifat ke dalam dan mengarah kepada pribadi. Justru sudah menjadi kesadaran para sarjana Islam sejak dari masa-masa awal bahwa Islam adalah agama pertengahan (wasath), yakni antara di satu pihak agama Yahudi yang legalistik dan banyak menekankan orientasi kemasyarakatan itu dan, di pihak lain, agama Kristen yang spiritualistik dan sangat memperhatikan kedalaman olah serta pengalaman ruhani serta membuat agama itu lembut. Seperti dikatakan oleh Ibn Taymiyyah, ''Syari`ah Taurat didominasi oleh ketegaran, dan Syari`ah Injil didominasi oleh kelembutan; sedangkan Syari`ah Al-Qur'an menengahi dan meliputi keduanya itu.''

Maka, sebagai bentuk pertengahan dan sekaligus antara kedua agama pendahulunya itu, Islam mengandung ajaran-ajaran hukum dengan orientasi kepada masalah-masalah tingkah laku manusia secara lahiriah seperti pada agama Yahudi, tapi juga mengandung ajaran-ajaran keruhanian yang mendalam seperti pada agama Kristen. Bahkan sesungguhnya antara keduanya itu tidak bisa dipisahkan, meskipun bisa dibedakan. Artinya, ketika seorang Muslim dituntut untuk tunduk kepada suatu hukum tingkah laku lahiriah, ia diharapkan, malah diharuskan, menerimanya dengan ketulusan yang terbit dari lubuk hatinya. Ia harus merasakan ketentuan hukum itu sebagai sesuatu yang berakar dalam komitmen spiritualnya. Kenyataan ini tecermin dalam susunan kitab-kitab fiqih, yang selalu dimulai dengan bab pensucian (thaharah) sebagai awal perjalanan pensucian batin. Walaupun tetap ada kemungkinan orang mengenali mana yang lebih lahiriah, dan mana pula yang batiniah.

Sebenarnya, sudah sejak zaman Rasulullah s.a.w. sendiri terdapat kelompok para Sahabat Nabi yang lebih tertarik kepada hal-hal yang bersifat lebih batiniah itu. Disebut-sebut, misalnya, kelompok ahl al-Shuffah, yaitu sejumlah Sahabat yang memilih hidup sebagai faqir dan sangat setia kepada masjid. Tidak heran bahwa kelompok ini, dalam literatur kesufian, sering diacu sebagai teladan kehidupan saleh di kalangan para Sahabat.

Al-Qur'an sendiri juga memuat berbagai firman yang merujuk kepada pengalaman spiritual Nabi. Misalnya, lukisan tentang dua kali pengalaman Nabi bertemu dan berhadapan dengan Malaikat Jibril dan Allah. Yang pertama ialah pengalaman beliau ketika menerima wahyu pertama di gua Hira', di atas Bukit Cahaya (Jabal Nur). Dan yang kedua ialah pengalaman beliau dengan perjalanan malam (isra') dan naik ke langit (mi`raj) yang terkenal itu. Kedua pengalaman Nabi itu dilukiskan dalam Kitab Suci (Q. 53: 1-18) demikian:

Demi bintang ketika sedang tenggelam

Sahabatmu sekalian itu tidaklah sesat atau pun menyimpang

Dan ia tidaklah berucap karena menurutkan keinginan

Itu tidak lain adalah ajaran yang diwahyukan

Diajarkan kepadanya oleh Jibril yang kuat perkasa

Yang bijaksana, dan yang telah menampakkan diri secara sempurna

Yaitu ketika ia berada di puncak cakrawala

Kemudian ia pun mendekat, dan menghampiri

Hingga sejarak kedua ujung busur panah, atau lebih dekat lagi

Lalu Tuhan wahyukan kepada hamba-Nya apa yang diwahyukan-Nya

Tidaklah jiwa (Nabi) mendustakan yang dilihatnya sendiri

Apakah kamu semua akan membantahnya tentang yang ia saksikan?

Padahal sungguh ia telah menyaksikan pada lain kesempatan

Yaitu didekat Pohon Sidrah (Lotus), di alam penghabisan

Di sebelahnya ada Surga tempat kediaman

Ketika Pohon Sidrah itu diliputi cahaya tak terlukiskan

Penglihatan Nabi tidak bergoyah, dan tidak pula salah arah

Sungguh ia telah menyaksikan tanda-tanda Tuhannya yang Agung tak terkira.

Bagi kaum Sufi, pengalaman Nabi dalam Isra-Mi`raj itu adalah sebuah contoh puncak pengalaman ruhani. Justru ia adalah pengalaman ruhani yang tertinggi, yang hanya bisa dipunyai oleh seorang Nabi. Namun kaum Sufi berusaha untuk meniru dan mengulanginya bagi diri mereka sendiri, dalam dimensi, skala, dan format yang sepadan dengan kemampuan mereka. Hal ini dikarenakan inti pengalaman itu ialah penghayatan yang pekat akan situasi diri yang sedang berada di hadapan Tuhan, dan bagaimana ia ''bertemu'' dengan Dzat Yang Maha Tinggi itu.

''Pertemuan'' dengan Tuhan, dengan sendirinya, juga merupakan puncak kebahagiaan, yang dilukiskan dalam sebuah hadis sebagai ''sesuatu yang tak pernah terlihat oleh mata.'' Hal ini karena dalam pertemuan tersebut segala rahasia kebenaran ''tersingkap'' (kasyf) untuk sang hamba, dan sang hamba pun lebur serta sirna (fana') dalam Kebenaran. Oleh karena itu, Ibn 'Arabi, misalnya, melukiskan ''metode'' atau thariqah-nya sebagai perjalanan ke arah penyingkapan Cahaya Ilahi, melalui pengunduran diri (khalwah) dari kehidupan ramai.

Hidup dengan ''pengunduran diri'' dan sikap penuh kepasrahan tersebut memang bisa mengesankan kepasifan dan eskapisme. Akan tetapi, sebagai dorongan hidup bermoral, pengalaman mistis kaum Sufi sebetulnya merupakan suatu kedahsyatan. Karena itulah ajaran Tasawuf juga disebut sebagai ajaran akhlak. Dan akhlak yang hendak mereka wujudkan ialah yang merupakan ''tiruan'' akhlak Tuhan, sesuai dengan sabda Nabi yang mereka pegang teguh, ''Berakhlaklah kamu semua dengan akhlak Allah.''

Wallahualam bissawab
-------------------------------------------------------------------------------------

Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Tekad No.18/II

---------------------------------------------------------------------------------------------
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana - Semoga bermanfaat
Billahit taufiq wal hidayah
Wassalamualaikum wr.wb
IpeHa
Ext 4206
E-MAIL : imamph@ptppa.com
"Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk duniamu, Utamakan AKHLAK, SHOLAT dan ZAKAT untuk akhiratmu"

Tuhan 9cm - Taufik Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara- perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im

sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang
yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana

kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,

di warung Tegal pengunjung merokok,

di restoran di toko buku orang merokok,

di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,

bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut

dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.

Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan
nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun
asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,

di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor
perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,

di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,

di ruang sidang ber-AC penuh,

dengan cueknya, pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk

kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya, putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin

dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan
AC penuh itu.

Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.

Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.

Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.

Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.

Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz.

25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.

15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.

4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.

Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.

Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,

jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar
perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan
kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.

Kini mereka berfikir.

Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia
mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di
negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada
tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

* Taufik Ismail

Jalaluddin Rumi "Menangislah!"

Dari Matsnawi, Buku Kelima 65-149

------------------------------------------------------------

Karena tangisan awan, taman pun tersenyum
Karena tangisan bayi, air susu pun mengalir

Pada suatu hari ketika bayi tahu cara, ia berkata
“Aku akan menangis agar perawat penyayang tiba”

Tidakkah kamu tahu bahwa Sang Perawat Agung
Tidak akan berikan susu jika kamu tidak meraung

Tuhan berfirman, “Menangislah sebanyak-banyaknya”
Dengarkan, anugrah Tuhan kan curahkan air susunya

Tangisan awan dan panas mentari
Adalah tiang dunia, rajutlah keduanya

Jika tak ada panas mentari dan tangisan awan
Mana mungkin bakal kembang semua badan

Mana mungkin musim silih berganti
Jika kemilau dan tangis ini berhenti

Mentari yang membakar dan awan yang menangis
Itulah yamg membuat dunia segar dan manis

Biarkan matahari kecerdasanmu terus-menerus terbakar
Biarkan matamu, seperti awan, kemilau karena airmata yang keluar

Menangislah seperti rengekan anak kecil, jangan makan rotimu
karena roti jasmanimu akan mengeringkan air ruhanimu

Ketika tubuhmu rimbun dengan dedaunan yang subur
Siang malam batang rohmu melepaskannya seperti musim gugur

Kerimbunan tubuhmu adalah kerontangan rohmu
Segeralah, jatuhkan tubuhmu, tumbuhkan rohmu!

Pinjami Tuhan, pinjamkan kerimbunan tubuhmu
Tukarkan dengan taman yang merkah dalam jiwamu

Berikan pinjaman, kurangi makanan badanmu
Biar tampaklah muka yang dulu tak terlihat matamu

Ketika badan mengeluarkan semua kotoran keji
Tuhan mengisinya dengan mutiara dan kesturi

Orang itu telah menukar kotoran dengan kesucian
Dari “Dia sucikan kamu” ia peroleh kenikmatan

Khutbah Jum'at : KITA SEMUA WAJIB BERSYUKUR

KHUTBAH PERTAMA:

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ...
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Ma'asyiral Muslimin A'azzanallah wa`iyyakum
Pada kesempatan yang mulia dan bahagia ini, marilah kita tidak lupa dan tidak bosan-bosannya untuk selalu dan senantiasa memanjatkan puja dan puji syukur kita ke hadirat Allah Ta’ala atas segala limpahan karunia, hidayah, dan berbagai kenikmatan yang telah, sedang, dan insya Allah akan kita dapatkan, baik nikmat Iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan, nikmat kesempatan, nikmat kebersamaan, dan berjuta nikmat lainnya yang tidak akan mungkin bagi kita sebagai hamba yang lemah untuk dapat menghitung nikmat-nikmat tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا
"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala sesuatu yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya." (Ibrahim: 34).

Syaikh as-Sa'di Rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya, "Maksudnya, Allah Ta’ala telah menganugerahkan kepada kalian segala sesuatu yang menjadi angan-angan dan kebutuhan kalian, berupa berbagai macam kenikmatan yang kalian mohonkan padaNya, baik dengan li-sanul hal maupun dengan lisanul maqal."

Kaum Muslimin Hafizhanallah wa`iyyakum
Jika kita mau menyadari dan merenungi betapa agungnya nikmat Allah yang telah Dia anugerahkan kepada kita, niscaya tidak ada alasan apa pun bagi kita untuk durhaka kepadaNya. Betapa tidak, sedangkan apa yang dialami seorang hamba dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali, bahkan dalam tidur itu sendiri, semuanya itu tidak akan dapat ia jalani melainkan karena karunai dan izin dariNya. Apa yang ada pada diri dan jasad kita dari mulai ujung rambut hingga ujung kaki adalah pemberian Allah. Apa yang ada di sekeliling kita dari mulai keluarga, kerabat, sanak saudara hingga harta benda adalah karunia Allah. Tidak ada satu detik pun yang dijalani oleh seorang hamba dalam kehidupannya di dunia ini, melainkan ia selalu berada di bawah karunia dan anugerah Allah Yang Maha Pencipta.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
"Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (da-tangnya)." (An-Nahl: 53).

Ma'asyiral Muslimin Rahimanallah wa`iyyakum
Setelah mengetahui hakikat yang agung ini, lalu apakah yang harus kita lakukan sebagai seorang hamba lemah yang tidak memiliki daya upaya apa pun untuk mewujudkan sesuatu melainkan karena pertolongan dariNya? Akankah kita durhaka kepadaNya padahal setiap detik kita menikmati pemberianNya? Akankah kita melalaikanNya karena kesombongan kita dengan mengatakan bahwa segala yang kita capai adalah karena usaha dan jerih payah kita belaka, padahal tidaklah kita tinggal melainkan di atas bumi-Nya dan bernaung di bawah langitNya?

Ada seorang laki-laki datang kepada Ibrahim bin Adham Rahimahullah, lalu ia berkata, "Sesungguhnya aku adalah orang yang banyak melakukan perbuatan dosa, maka nasihatilah aku!"

Ibrahim berkata, "Jika kamu mau menerima lima perkara dari-ku, dan kamu mampu melaksanakannya, maka perbuatan maksiat apa pun tak akan mencelakakan kamu."

Maka orang itu berkata, "Apakah itu?"

Ibrahim berkata, "Jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah Ta’ala, maka janganlah makan dari rizkiNya!"

Orang itu menjawab, "Kalau begitu, dari mana aku makan, karena semua yang ada di bumi ini adalah pemberianNya?"

Ibrahim berkata, "Apakah pantas kamu bermaksiat kepada Allah, sedangkan kamu memakan rizkiNya?"

Orang itu menjawab, "Tidak, kemudian apa yang kedua?"

Ibrahim berkata, "Jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah Ta’ala, maka janganlah kamu tinggal di bumiNya!"

Orang itu berkata, "Ini lebih besar dari yang pertama, di mana aku harus tinggal?"

Ibrahim berkata, "Apakah pantas kamu bermaksiat kepada Allah, sedangkan kamu memakan rizkiNya dan tinggal di bumi-Nya?"

Orang itu menjawab, "Tidak, kemudian apa yang ketiga?"

Ibrahim berkata, "Jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah Ta’ala, maka carilah tempat di mana Allah Ta’ala tidak melihatmu!"

Orang itu berkata, "Ke mana aku harus pergi, sedangkan Allah Ta’ala mengetahui semua yang nampak dan tersembunyi?"

Ibrahim berkata, "Apakah pantas kamu bermaksiat kepada Allah, sedangkan kamu memakan rizkiNya dan tinggal di bumiNya serta Dia melihat apa yang kamu lakukan?"

Orang itu menjawab, "Tidak, kemudian apa yang keempat?"

Ibrahim berkata, "Jika malaikat maut datang untuk mengam-bil ruhmu, maka mohonlah kepadanya, 'Berilah aku waktu agar aku dapat bertaubat dan beramal shalih!'"

Orang itu berkata, "Permohonanku tidak akan dikabulkan dan mereka tak akan menunda (kematian)ku."

Ibrahim berkata, "Jika kamu tidak dapat menghindar dari datangnya kematian agar dapat bertaubat dan beramal shalih, maka kenapa kamu berbuat maksiat kepadaNya?"

Orang itu berkata, "Lalu apa yang kelima?"

Ibrahim berkata, "Jika di Hari Kiamat nanti, malaikat penjaga neraka datang untuk mengirimmu ke neraka, maka janganlah kamu menurutinya!"

Orang itu berkata, "Mereka tidak akan melepaskanku dan tidak akan mengabulkan keinginanku."

Ibrahim berkata, "Jika demikian, bagaimana kamu berharap dapat selamat?"
Orang itu pun berkata, "Cukuplah hal ini bagiku. Sungguh aku memohon ampun kepada Allah Ta’ala, dan bertaubat kepadaNya."

Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah
Renungilah hikmah yang terkandung dalam percakapan di atas. Sebuah dialog yang dapat menggugah hati kita yang sudah semakin beku dan keras. Benarlah apa yang telah dinasihatkan oleh ulama mulia tersebut, bahwa ternyata tidaklah kita hidup dan menikmati kehidupan ini melainkan karena anugerah dan karunia dari Allah Ta’ala. Tidak ada satu masa atau satu tempat pun, melainkan di sana ada nikmat Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, sudah menjadi suatu keniscayaan dan kewa-jiban yang tidak dapat lagi kita tawar, yakni untuk senantiasa ber-syukur kepada Allah Ta’ala, kapan pun, di mana pun dan dalam kondisi apa pun. Meski kita sadari, bahwa sebanyak apa pun kita berusaha untuk mensyukuri nikmat Allah Ta’ala, niscaya syukur kita tersebut tidak akan mungkin dapat membayar segala kenikmatan yang telah Dia anugerahkan kepada kita, bahkan syukur yang kita lakukan pun, adalah bentuk nikmat yang Allah karuniakan kepada kita. Karena tidak akan mungkin bagi kita untuk menjadi hamba Allah yang bersyukur jika bukan karena ridha dan izinNya kepada kita. Allah Ta’ala berfirman,

وَاشْكُرُواْ لِلّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
"Dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah." (Al-Baqarah: 172).

Ma'asyiral Muslimin yang Saya Cintai dan Saya Muliakan
Lantas bagaimana caranya kita bersyukur kepada Allah? Apakah cukup dengan mengucapkan "Alhamdulillah" ketika kita mendapatkan nikmat? Tentu tidaklah demikian, karena syukur tidak cukup hanya dengan lisan, melainkan harus dengan hati, juga lisan, dan anggota badan. Syukur dengan hati yakni kita mengakui dan meyakini bahwa apa pun nikmat yang kita peroleh, semata-mata datangnya dari Allah Ta’ala. Sedangkan syukur dengan lisan, yaitu kita selalu membasahi lisan ini dengan dzikir dan ucapan syukur kepadaNya. Adapun syukur dengan anggota badan, maka kita menggunakan segala bentuk nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada kita sebagai sarana untuk menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Kita pergunakan nikmat apa pun yang telah diberikanNya untuk merealisasikan tujuan utama kita diciptakan, yakni untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (Adz-Dzariyat: 56).

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hambaNya yang pandai bersyukur.

فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

KHUTBAH KEDUA :

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah
Pada khutbah yang kedua ini, khatib hanya ingin berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada jama'ah sekalian, marilah kita selalu berupaya semampu kita untuk menjadi orang-orang yang pandai mensyukuri karunia Allah Ta’ala, karena dengan bersyukur, kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita, karena kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia. Bersikaplah qana'ah, selalu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepada kita.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُنْ قَنِعًا، تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ.

"Jadilah orang yang qana'ah, niscaya engkau menjadi manusia yang paling bersyukur." (HR. Ibnu Majah, no. 4214, dan dishahihkan oleh al-Albani).

Kebahagiaan tidaklah diukur dengan berlimpahnya materi dunia, akan tetapi dengan kenyamanan dan ketenangan jiwa, dan itu hanya akan diraih oleh orang mukmin yang selalu bersyukur kepadaNya.Syukurilah segala nikmatNya sekecil apa pun nikmat itu menurut kita, karena Allah telah menjanjikan pahala bagi orang yang mau bersyukur, dan mengancam dengan siksa bagi orang yang kufur. Sebagaimana FirmanNya,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Dan ingatlah tatkala Rabbmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Ibrahim: 7).

Marilah kita berdoa semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai hamba-hambaNya yang pandai bersyukur dan selalu qana'ah terhadap apa pun yang kita dapatkan).

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ

oleh : Oleh: Zuhdi Amin, Lc.
Dikutip dari Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, Darul Haq Jakarta).

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum wr.wb

Uang Korupsi itu merusak anak saya

Terlampir tulisan mas Jamil yang penuh hikmah. Semoga jadi pelajaran bagi kita semua, dan semoga kita dijauhkan dari perbuatan yang demikian, demi keselamatan dan kebahagiaan anak cucu kita. Syukran mas jamil
---------------------------------------------------------------------------
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa korupsi di Indonesia sudah terlalu besar dan diluar kontrol. Korupsi sudah merasuki semua sendi kehidupan dan telah terjadi baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Pernyataan presiden yang disampaikan pada acara Presidential Lecture di Istana Negara pada Rabu, 2 Agustus 2006, itu mengisyaratkan bahwa pemberantasan korupsi di Indonesia masih jauh dari harapan. Kendati pelaku korupsi tampak tak terjamah, tapi yakinkah kita bahwa mereka benar-benar lolos dari jerat hukum?

Ngomong-ngomong soal korupsi saya ingin berbagi cerita. Suatu hari, saya diundang untuk berbicara di depan staff dan pimpinan sebuah perusahaan ternama. Pada kesempatan tersebut saya berbicara tentang “hukum kekekalan energi”, yang intinya, menurut hukum kekekalan energi dan semua agama, apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita di dunia. Dengan kata lain, apabila kita melakukan “energi positif” atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula.

Begitu pula bila kita melakukan “energi negatif” atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Ketika sesi tanya jawab, salah seorang pimpinan di perusahaan itu mengkritik pedas “hukum kekekalan energi”. Walau saya sudah menjelaskan dengan beragam argumen ilmiah dan contoh-contoh dalam kehidupan nyata, dia tetap tidak yakin.

Sampai kami berpisah, kami masih pada pendapat masing-masing.

Tujuh bulan berlalu, pimpinan itu tiba-tiba menelpon saya. “Pak Jamil, saya ingin bertemu anda,” ujarnya singkat. Karena penasaran, undangan dari beliau saya prioritaskan. Singkat kata, pada waktu dan tempat yang telah disepakati kami bertemu. Rupanya beliau tiba lebih dulu di tempat kami janjian. Begitu saya datang, beliau segera menyambut dengan sebuah pelukan erat.

Cukup lama beliau memeluk saya. “Maafkan saya pak Jamil. Maafkan saya,” ucapnya, sambil terisak dan terus memeluk saya. Karena masih bingung dengan kejadian ini saya diam saja. Setelah kami duduk, beliau membuka percakapan. “Saya sekarang yakin dengan apa yang pak Jamil dulu katakan. Kalau kita berbuat energi positif maka kita akan mendapat kebaikan dan bila kita berbuat energi negatif maka pasti kita akan mendapat keburukan,” ujarnya.

“Bagaimana ceritanya sekarang kok bapak jadi yakin?” tanya saya. “Selama saya menjabat pimpinan di perusahaan itu, saya menerima uang yang bukan menjadi hak saya. Semuanya saya catat. Jumlahnya lima ratus dua puluh enam juta rupiah,” katanya.

Sembari menarik napas panjang beliau melanjutkan bercerita. Kali ini tentang anaknya.

“Anak saya sekolah di Australia. Karena pengaruh pergaulan, dia terkena narkoba. Sudah saya obati dan sembuh. Ketika liburan, dia ke Amerika dan Kanada. Tidak disangka, disana dia bertemu dengan teman pengguna narkobanya ketika di Australia. Anak saya sebenarnya menolak menggunakan lagi. Namun dia dipaksa dan akhirnya anak saya kambuh lagi, bahkan makin parah,pak.” Selama bercerita, beliau tak henti mengusap pipinya yang basah dengan air mata yang terus meleleh seperti tak mau berhenti.

“Pak Jamil tahu berapa biaya pengobatan narkoba dan penyakit anak saya?” Tanpa menunggu jawaban saya, lelaki separuh baya itu berkata lirih, “Biayanya lima ratus dua puluh enam juta rupiah. Sama persis dengan uang kotor yang saya terima, pak!”

Beliau tertunduk dan menggeleng-gelengkan kepala disertai isak tangis yang makin keras. Dengan terbata lelaki itu berkata, “Uang korupsi itu telah merusak anak saya, pak. Saya menyesal. Saya bukan orang tua yang baik. Saya telah merusak anak saya, pak!”

Saya peluk erat lelaki itu. Saya biarkan air matanya tumpah. Tangisnya semakin keras….

Wahai saudara, haruskah menunggu anak kita menjadi pengguna narkoba dan sakit untuk berhenti korupsi?

Sebuah catatan kecil dari “Tasawuf di Indonesia”-nya Dr. Alwi Shihab

Peran Tasawuf dalam penyebaran Islam di tanah air menarik untuk dicermati. Eksesnya bukan saja terkait dengan persoalan “tata krama” hubungannya dengan Tuhan, tapi juga persoalan sosial-kemasyarakatan, bahkan masalah politik. Proses pembentukannya pun sedikit banyak beradaptasi dengan kehidupan spiritual sekitar awal datangnya Islam, yakni tradisi Hindu dan Budha. Islam pertama yang dikenal di Nusantara ini sesungguhnya adalah Islam sufi. Dalam perkembangannya, tasawuf terbagi dalam dua golongan, yaitu “tasawuf sunni” dan “tasawuf falsafi”, dimana masing-masing mempunyai tokoh yang menonjol. Syekh Nûr ad-Dîn ar-Ranîrî, Syaikh ‘Abd ash-Shamad Al-Palembângî, dan Syekh Muhammad Hasyim ‘Asy’âri mewakili kelompok tasawuf sunni. Adapun di antara tokoh kelompok tasawuf falsafi, yang menonjol adalah Hamzah al-Fansuri.

Tentang proses pertama masuknya Islam, ada beberapa teori tentang para pelopor dakwah Islam pertama di Indonesia (India, Persia, dan Arab) serta pengaruhnya terhadap dunia tasawuf di tanah air. Berdasarkan fakta sejarah yang akurat, Dr. Alwi memaparkan bahwa para pelopor dakwah Islam pertama di Indonesia berasal dari Arab, dari keturunan Imâm Ahmad ibn ‘Isâ al-Muhâjir al-‘Alawî (cucu Imâm Ja’far ash-Shâdiq).

Kesimpulan ini membantah pandangan yang sudah jamak diketahui bahwa penyebar awal Islam di tanah air adalah pedagang gujarat. India hanya sebagai tempat pemberangkatan orang-orang Arab yang kemudian melanjutkan ke kota Timur Jauh. Terbukti, dari nama kota itu “malibar” sebagai alihan dari kata Arab, ma’bar.

Sedangkan di Jawa, cikal bakal dan aspek terjang aliran kepercayaan kebatinan Jawa (kejawen), dengan tokoh utamanya Ronggowarsito – yang lebih dikenal sebagai “Bapak Kebatinan Indonesia”. Begitu juga ketegangan-ketegangan antara budaya lokal dan budaya yang dibawa saat proses Islamisasi pertama terjadi di beberapa wilayah Indonesia.

Tasawuf Sunni banyak sekali mengambil ajaran-ajaran al-Ghazâli yang memang menjadi rujukan yang baku dalam pengajian-pengajian di pesantren. Ajaran al-Gazhali ini tertuang dalam karya monumentalnya, Ihya ‘Ulûm ad-Dîn (Kebangkitan Ilmu-ilmu Agama). Kemudian, dilengkapi dengan dua karya lainnya, yakni Minhâj al-‘آbidîn (Metode Para Ahli Ibadah) dan Bidâyat al-Hidâyah (Permulaan Petunjuk).

Dalam proses selanjutnya, menurut Dr. Alwi Shihab, pada awal abad 20, pesantren di Jawa telah menggunakan kurikulum salafi karena bersandar pada hal-hal tekstual, yakni al-Quran dan hadits. Kenyataan ini erat kaitannya dengan Imâm ‘Abd Ar-Rahmân As-Suyûthi dalam bukunya Itmam ad-Dirâyah, yang menentukan kurikulum seperti itu. Dan, itu sedikit banyak dipengaruhi oleh Ihya ‘Ulûm ad-Dîn,karya Imam al-Ghazali.



Berkaitan dengan mata rantai sejarah ketasawufan, diuraikan tentang sebuah proses kesejarahan yang amat panjang, ketika Ar-Raniri mengritik Hamzah al-Fansuri dan berdebat dengannya. Meski masih terasa kurang, karena mengesankan Jawa dan Sumatera serta tidak mengikutsertakan analisis historis yang terjadi di wilayah timur Indonesia.

Jejak Sosiologis "Jalan Kebenaran" dan Pengaruhnya

Satu hal yang menarik juga, terjadinya perkembangan peranan yang besar dari kaum ‘Alawi (orang-orang Syiah pengikut Sayyid Husain bin ‘Ali bin ‘Abî Thâlib). Dengan kata lain, jelas sekali bahwa dalam setiap tahap perkembangannya, tasawuf dan Islam dimotori oleh para ‘Alawiyyîn atau anak keturunan Sayyid Ahmad Al-Muhâjir.

Hanya saja, ada persoalan identifikasi antara Tasawuf Falsafi dan Tasawuf Sunni yang menarik untuk dicermati. Kesimpulan bahwa K.H. Hasyim Asy’ari adalah penganut Tasawuf Sunni dengan melihat dua belas kitab yang dikarangnya, tidak sepenuhnya benar. Asy’ari sebenarnya mengikuti doktrin tahallul (penempatan diri pada makhluk lain). Padahal doktrin tahallul merupakan bagian dari Tasawuf Falsafi. Karenanya, tidaklah tepat untuk menggolongkan semua ulama dari kalangan NU menganut Tasawuf Sunni.

Kedatangan orang-orang Cina yang kemudian bermukim di pantai utara Jawa dan menganut madzhab Hanafi yang erat kaitannya dengan Tasawuf Falsafi, menjadi sorotan yang sangat penting berkaitan dengan reaksi orang Jawa yang mengembangkan kebatinan untuk memfilter doktrin sinkretik yang dibawa oleh Syekh Siti Jenar sebagai simpul masuknya pemikiran al-Hallajke Indonesia.

Peranan Tasawuf/Sufisme

Tasawuf (mistik, sufi, olah spiritual) berperan besar dalam menentukan arah dan dinamika kehidupan masyarakat. Kehadirannya meski sering menimbulkan kontroversi, namun kenyataan menunjukkan bahwa tasawuf memiliki pengaruh tersendiri dan layak diperhitungkan dalam upaya menuntaskan problem-problem kehidupan sosial yang senantiasa berkembang mengikuti gerak dinamikanya.

Sebagai agama, Islam mempunyai berbagai aspek. Salah satunya adalah mistik, dikenal tasawuf atau sufisme. Tasawuf ini mempunyai jalan sejarah panjang dan unik, khususnya ketika tasawuf ini dipengaruhi oleh ajaran maupun budaya di luar Islam. Melihat perjalanan sejarah tasawuf di Indonesia ini menarik ditindaklanjuti sebagai upaya melacak jejak-jejak pengaruhnya di Indonesia. Lebih jauh, mempelajari sejarah perjalanan tasawuf paling tidak sama nilainya, atau bahkan mungkin lebih, jika dibandingkan dengan mempelajari aspek-aspek Islam lainnya.

Menurut Dr. Alwi Shihab, tasawuf adalah faktor terpenting bagi tersebarnya Islam secara luas di Asia Tenggara. Meski setelah itu terjadi perbedaan pendapat mengenai kedatangan tarekat, apakah bersamaan dengan masuknya Islam atau datang kemudian. Perbedaan yang sama terjadi pula mengenai tasawuf falsafi yang diasumsikan sebagai sumber inspirasi bagi penentuan metode dakwah yang dianut dalam penyebaran Islam tersebut.

Menurut Ahmad Syafii Mufid dalam artikel Aliran-Aliran Tarekat di Sekitar Muria Jawa Tengah (jurnal Pesantren, 1/Vol IX, 1992. hlm. 29) sufisme atau tarekat dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia memiliki arti penting. "Islam Pertama" yang diperkenalkan di Jawa, sebagaimana tercatat dalam babad, adalah Islam dalam corak sufi. Islam dalam corak demikian itulah yang paling mampu memikat lapisan bawah, menengah dan bahkan bangsawan.

Oleh tasawuf, idiom-idiom budaya lama (animis, Hindu, Budha) yang berkaitan dengan pandangan dunia (world view) berikut kosmologi, mitologi dan keyakinan takhayul diubah secara hati-hati. Wadah-wadah lama yang dipakai, isinya diganti. Peninggalan kejeniusan masa silam masih bisa terlihat dalam upacara daur hidup, upacara desa dan semacamnya. Dalam upacara tersebut masih disediakan sesaji, tetapi doanya bukan untuk para "dewa-dewa" namun ditujukan sebagai permohonan kepada Allah, Tuhan Sang Maha Pencipta, dan sesajinya "biasanya berupa makanan" dimakan bersama-sama setelah memanjat doa.

Radjasa Mu"tasim dan Abdul Munir Mulkhan dalam Bisnis Kaum Sufi: Studi Tarekat dalam Masyarakat Industri (1998) mengemukakan gerakan tarekat (tasawuf) Sadzaliyah di Kudus mampu mendorong dinamika perekonomian di wilayahnya. Sehingga dalam kelompok tarekat ini terdapat jaringan ekonomi yang kuat dan sulit ditembus oleh jaringan lain hingga mampu mengangkat taraf hidup ekonomi penganutnya. Katanya, hampir semua pengikut tarekat ini memanfaatkan waktu siang untuk melakukan kegiatan ekonomi, sementara waktu malam dimanfaatkan untuk nglakoni (menjalani) kegiatan tarekat.

Sejarah pengaruh tasawuf (gerakan tarekat) dan peranannya dalam kehidupan masyarakat di Indonesia modern.

Studi ini bermuara pada upaya untuk lebih memperjelas dan mempertajam secara tuntas masalah-masalah yang kurang mendapat perhatian selama ini. Oleh Alwi Shihab tasawuf di sini disebut Islam Sufistik.

Pergumulan antara Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi, menjadi topik yang menarik dikaji dimana ia mengemukakan bahwa tasawuf Sunni banyak sekali mengambil ajaran-ajaran Al Ghazali melalui tokoh Iman Al Qusyairi (wafat. 465 H) yang berperan melapangkan jalan bagi Al Ghazali untuk memenangkan tasawuf Sunni di Dunia Islam.

Dalam konteks ini, tasawuf yang berkembang di Indonesia oleh Dr. Alwi Shihab dipetakan dalam dua tipologi, yaitu falsafi dan Sunni. Dr. Alwi Shihab menjelaskan, falsafi merujuk pada konsep tasawuf yang dihubungkan dengan mistisisme phanteistik Ibnu Arabi. Sedangkan Sunni dihubungkan dengan model Al-Ghazali. Ibnu Arabi dikenal ahli mistik Islam yang mengajarkan "kesatuan hamba dan Tuhan".

Akar Tasawuf di Indonesia

SESUNGGUHNYA "Islam nontoleran" atau "Islam berwajah sangar" tidak memiliki akar sejarah yang kukuh di Indonesia. Justru sebaliknya, Islam sufistik atau Islam tasawuf yang lembut, yang mula-mula berkembang dan mewarnai Islam di Indonesia pada tahap-tahap awal. Menurut Dr. Alwi Shihab, hampir mayoritas sejarawan dan peneliti mengakui bahwa penyebaran Islam yang berkembang secara spektakuler di negara-negara Asia Tenggara berkat peranan dan kontribusi tokoh-tokoh tasawuf.

Hal itu disebabkan oleh sifat-sifat dan sikap kaum sufi yang lebih kompromis dan penuh kasih sayang. Tasawuf memang memiliki kecenderungan yang tumbuh dan berorientasi kosmopolitan, tak mempersoalkan perbedaan etnis, ras, bahasa, dan letak geografis.

Itulah sebabnya misionarisasi yang dilakukan kaum sufi berkembang tanpa peran. Keberhasilan itu terutama ditentukan oleh pergaulan dengan kelompok-kelompok masyarakat dari rakyat kecil dan keteladanan yang melambangkan puncak kesalehan dan ketekunan dengan memberikan pelayanan-pelayanan sosial, sumbangan, dan bantuan dalam semangat kebersamaan dan rasa persaudaraan murni.

Kaum sufi itu ibarat pakar psikologi yang menjelajahi segenap penjuru negeri demi menyebarkan kepercayaan Islam. Dari kemampuan memahami spirit Islam sehingga dapat berbicara sesuai dengan kapasitas (keyakinan dan budaya) audiensnya itulah, kaum sufi kemudian melakukan modifikasi adat istiadat dan tradisi setempat sedemikian rupa agar tidak bertentangan dengan dasar-dasar Islam.

Dengan kearifan dan cara pengajaran yang baik tersebut, mereka berhasil membumikan kalam Tuhan sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Misalnya, mengalihkan kebiasaan "begadang" penduduk yang diisi dengan upacara ri-tual tertentu, saat itu menjadi sebuah halaqah zikir. Dengan kearifan serupa, para dai membolehkan musik tradisional gamelan yang merupakan seni kebanggaan kebudayaan klasik Indonesia dan paling digemari orang Jawa untuk mengiringi lagu-lagu pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

Islam masuk ke Indonesia

Kapan persisnya Islam pertama kali masuk ke Indonesia? Sebagian besar orientalis berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 H dan 13 H.

Pendapat itu didasarkan pada dua asumsi: pertama, bersamaan dengan jatuhnya Baghdad pada 656 M di tangan penguasa Mongol yang sebagian besar ulamanya melarikan diri hingga ke Kepulauan Nusantara, kedua, ditemukannya beberapa karya sufi pada abad ke-7 H.

Menurut Dr. Alwi Shihab, asumsi itu tak bisa diterima. Bagi dia, justru Islam pertama kali masuk ke Nusantara pada abad pertama Hijriyah. Yakni, pada masa pedagang-pedagang sufi-Muslim Arab memasuki Cina lewat jalur laut bagian barat.

Kesimpulan itu didasarkan Dr. Alwi Shihab pada manuskrip Cina pada periode Dinasti Tang. Manuskrip Cina itu mensyaratkan adanya permukiman sufi-Arab di Cina, yang penduduknya diizinkan oleh kaisar untuk sepenuhnya menikmati kebebasan beragama.

Cina yang dimaksudkan da-lam manuskrip pada abad pertama Hijriyah itu tiada lain adalah gugusan pulau-pulau di Timur Jauh, termasuk Kepulauan Indonesia.

Dari laporan jurnalistik Cina itu pula kita mendapati informasi baru bahwa ternyata jalur penyebaran Islam mula-mula di Indonesia bukanlah dari tiga jalur emas (Arab, India, dan Persia) sebagaimana tertulis dalam buku-buku sejarah selama ini, melainkan dari Arab langsung.

Itu seperti dinyatakan kedua orientalis terkemuka, GH Niemn dan PJ Velt bahwa orang-orang Arab-lah pelopor pertama memperkenalkan Islam di Kepulauan Nusantara. Yakni dari keturunan Ahmad ibn Isa al-Muhajir Alawi.

Tasawuf sunni versus tasawuf falsafi

Namun dalam sejarah, seperti dicatat Alwi Shihab, Islam tasawuf sendiri tidak sepi konflik, khususnya antara tasawuf sunni dan tasawuf falsafi, tatkala pada akhir abad ke-6 H bermunculan tarekat-tarekat yang sebagian besar mulai mengorientasikan pandangannya pada fiqih dan syari'at.

Tasawuf sunni dengan tokoh pertamanya yang menonjol, Ar-Raniri, menolak dan mencela tasawuf falsafinya Hamzah Fansuri. Dengan fatwa yang menyeramkan ia menjatuhkan veto kafir atas ajaran Fansuri.

Menurut Ar-Raniri, tasawuf falsafi tak lebih sebagai ajaran kebatinan dan kejawen, dan bahkan Nasrani yang berbaju Islam.

Dalam babakan sejarah peradaban Islam awal, tasawuf falsafi tak ubahnya anak haram; selalu dikejar-kejar dan disingkirkan seperti anjing kurap penyebar virus berbahaya bagi akidah. Puncak dari perseteruan itu tatkala Sitti Jenar dieksekusi mati oleh dewan wali (Wali Songo) karena dianggap telah keluar dari rel ajaran Islam murni.

Benarkah tasawuf falsafi telah menyimpang? Tampaknya tidak. Dari sinilah kita melihat bagaimana Alwi Shihab dengan jenial dan piawai melakukan rangkaian pembelaan dan anotasi kesalahan persepsi Ar-Raniri atas ajaran tasawuf Fansuri.

Menurut Dr. Alwi Shihab, Ar-Raniri menyerang Fansuri dengan tidak mengikuti pendekatan "ilmiah obyektif" melainkan cara-cara propaganda apologetik. Ia menghujat penganut tasawuf falsafi sebagai murtad yang kemudian dihalalkan darahnya dan menyebabkan jatuhnya ribuan korban yang tak berdosa.

Adalah benar, kata Dr. Alwi Shihab, Ar-Raniri cukup berjasa dalam menancapkan akar tasawuf sunni, tetapi jasa baik itu tak lantas membuat kita menutup mata dari kesewenang-wenangan fatwanya yang menyeramkan.

Kesalahan fatal penganut tasawuf sunni adalah kesimpulan mereka bahwa ajaran Ronggowarsito merupakan diaspora dari tasawuf falsafi. Padahal dalam karya-karya sosok yang disebut-sebut Bapak Kebatinan Indonesia ini, seperti Suluk Jiwa, Serat Pamoring Kawula Gusti, Suluk Lukma Lelana, dan Serat Hidayat Jati, yang sering diaku-aku Ronggowarsito berdasarkan kitab dan sunnah, menyimpan beberapa kesalahan tafsir dan transformasi pemikiran yang sangat mencolok.

Bahkan, Dr. Alwi Shihab menemukan bahwa Ronggowarsito hanya mengandalkan terjemahan buku-buku tasawuf dari bahasa Jawa dan tidak melakukan perbandingan dengan naskah asli bahasa Arab. Lagi pula Ronggowarsito sendiri belum pernah bersentuhan langsung dengan karya-karya Al-Hallaj maupun Ibn 'Arabi yang merupakan maestro tasawuf falsafi. Boleh dibilang Ronggowarsito memang tak berhasil memahami ajaran "murni" tasawuf.

Maka bagi Dr. Alwi Shihab adalah aneh bila tasawuf falsafi dipresepsi sebagai aliran kebatinan dalam ajaran Hindu dan Buddha, seperti dituduhkan kalangan tasawuf sunni. Justru, reaksi atas perkembangan tasawuf falsafi yang rasional inilah orang Jawa mengembangkan kebatinan, doktrin-doktrin yang sinkretik, yang justru bisa diatasi ketika ajaran "panteisme" Al-Hallaj masuk lewat perantaraan Sitti Jenar.

Belum lagi doktrin-doktrin wahdah al wujud Ibn 'Arabi dan ilmu hudhuri (iluminasi) Suhrawardi, yang juga menjadi rujukan utama tasawuf falsafi, mampu menampung kebutuhan sementara kaum kebatinan atau kaum sinkretik Hindu dan Buddha.

Oleh karena itu, sungguh tak arif rasanya bila kemudian kita mengatakan bahwa perkembangan tasawuf sunni merupakan satu-satunya variabel yang menyemarakkan aktivitas keagamaan di Nusantara. Kita juga harus menerima bahwa orang-orang berpaham kebatinan yang merupakan tetesan penerus tasawuf falsafi yang dibawa Al-'Arabi dan Al-Hallaj dan diperkenalkan Fansuri dan Sitti Jenar sebagai bagian dari penyebaran Islam.

Penjabaran cukup lengkap dalam buku karya Dr. Alwi Shihab ini bagus dan tajam untuk menjawab berbagai pertanyaan sekaligus merevisi berbagai penyimpangan manuskrip sejarah tentang masuknya Islam pertama di Nusantara. Selain itu sungguh buku ini merupakan rekaman sejarah "obyektif" yang belum ada duanya tentang perseteruan tasawuf berorientasi fiqih (tasawuf sunni) dengan tasawuf rasional (falsafi) yang selama ini masih kabur.

Wallahualam bissawab

Dikutip dari tulisan Dr. Alwi dan berbagai sumber lain.

MATA YANG TIDAK MENANGIS DI HARI KIAMAT

Semua kaum Muslim berkeyakinan bahwa dunia dan kehidupan ini akan berakhir. Akan datang suatu saat ketika manusia berkumpul di pengadilan Allah Swt. Al-Qur’an menceritakan berkali-kali tentang peristiwa Hari Kiamat ini, seperti yang disebutkan dalam surah Al- Ghasyiyah ayat 1-16.

Dalam surah itu, digambarkan bahwa tidak semua wajah ketakutan. Ada wajah-wajah yang pada hari itu cerah ceria. Mereka merasa bahagia dikarenakan perilakunya di dunia. Dia ditempatkan pada surga yang tinggi. Itulah kelompok orang yang di Hari Kiamat memperoleh kebahagiaan.

Tentang wajah-wajah yang tampak ceria dan gembira di Hari Kiamat, Rasulullah pernah bersabda, "Semua mata akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga hal. Pertama, mata yang menangis karena takut kepada Allah Swt. Kedua, mata yang dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan Allah. Ketiga, mata yang tidak tidur karena mempertahankan agama Allah."

Mari kita melihat diri kita, apakah mata kita termasuk mata yang menangis di Hari Kiamat?

Dahulu, dalam suatu riwayat, ada seorang yang kerjanya hanya mengejar-ngejar hawa nafsu, bergumul dan berkelana di teinpat-tempat maksiat, dan pulang larut malam.Dari tempat itu, dia pulang dalam keadaan sempoyongan. Di tengah jalan, di sebuah rumah, lelaki itu mendengar sayup-sayup seseorang membaca Al-Quran.

Ayat yang dibaca itu berbunyi: "Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kenudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang yang fasik (Qs 57: 16).

Sepulangnya dia di rumah, sebelum tidur, lelaki itu mengulangi lagi bacaan itu di dalam hatinya. Kemudian tanpa terasa air mata mengalir di pipinya. Si pemuda merasakan ketakutan yang luar biasa. Bergetar hatinya di hadapan Allah karena perbuatan maksiat yang pemah dia lakukan. Kemudian ia mengubah cara hidupnya. Ia mengisi hidupnya dengan mencari ilmu, beramal mulia dan beribadah kepada Allah Swt. sehingga di abad kesebelas Hijri dia menjadi seorang ulama besar,
seorang bintang di dunia tasawuf.

Orang ini bernama Fudhail bin Iyadh. Dia kembali ke jalan yang benar karena mengalirkan air mata penyesalan atas kesalahannya di masa lalu lantaran takut kepada Allah Swt. Berbahagialah orang-orang yang pernah bersalah dalam hidupnya kemudian menyesali kesalahannya dengan cara membasahi matanya dengan air mata penyesalan. Mata seperti itu insya Allah termasuk mata yang tidak menangis di Hari Kiamat.

Kedua, mata yang dipalingkan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Seperti telah kita ketahui bahwa Rasulullah pernah bercerita tentang orang-orang yang akan dilindungi di Hari Kiamat ketika orang-orang lain tidak mendapatkan perlindungan. Dari ketujah orang itu salah satu di antaranya adalah seseorang yang diajak melakukan maksiat oleh perempuan, tetapi dia menolak ajakan itu dengan mengatakan, "Aku takut kepada Allah".

Nabi Yusuf as. mewakili kisah ini. Ketika dia menolak ajakan kemaksiatan majikannya. Mata beliau termasuk mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat, lantaran matanya dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah Swt.

Kemudian mata yang ketiga adalah mata yang tidak tidur karena membela agama Allah. Seperti mata pejuang Islam yang selalu mempertahahkan keutuhan agamanya, dan menegakkan tonggak Islam. Itulah tiga pasang mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat, yang dilukiskan oleh Al-Quran sebagai wajah-wajah yang berbahagia di Hari Kiamat nanti. Wallahualam bissawab[]

(Jalaluddin Rakhmat, Renungan-Renungan Sufistik: Membuka Tirai Kegaiban, Bandung, Mizan, 1995, h. 165-167)

Syukur dan Sabar (Guyonan suami-istri)

Seorang lelaki yang pendek dan buruk rupanya suatu hari duduk-duduk bersama istrinya yang sangat cantik. Si lelaki tak berkedip memandang wajah istrinya yang cantik jelita.

Agak tersipu-sipu, sang istri pun sang istri berkata, “Kamu ini kenapa sih, kok dari tadi memandangku saja?”

“Kulihat wajahmu yang cantik,” jawab si suami, “semakin hari kok kamu semakin cantik saja. Maka setiap kali aku melihatmu, semakin bertambah syukurku.”

“Ya, memang “kata si istri,” dan kita berdua nanti akan masuk surga.”

“Lho, darimana kamu tahu kalau kita berdua masuk surga?”

“Aku pernah mendengar pengajian dari Ustadz, dimana dia bilang bahwa penghuni surga kelak adalah hambaNya yang banyak bersyukur serta sabar".

"Lha terus ?" tanya suami penasaran

"Ya, dan aku yakin apa kata ustadz itu, bahwa hambaNya yang bersyukur dan hamba yang bersabar akan masuk surga"

"Terus apa hubungannya dengan kita berdua akan masuk surga?" tanya sang suami.

" Oh ya jelas banget karena kita berdua termasuk hambaNya yang bersyukur dan sabar. Kamu bersyukur karena mendapat anugerah istri yang cantik seperti aku. Sedangkan aku bersabar mendapat cobaan berupa suami seperti kamu.

BANGSA KASIHAN – by Khalil Gibran

Kasihan bangsa yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum yang tidak dituainya
dan meminum anggur yang tidak diperasnya

Kasihan bangsa yang menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan,
dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.

Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur,
sementara menyerah padanya ketika bangun.

Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan,
tidak sesumbar kecuali di runtuhan,
dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya
sudah berada di antara pedang dan landasan.

Kasihan bangsa yang negarawannya serigala,
falsafahnya karung nasi,
dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.

Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya
dengan trompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian,
hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan trompet lagi.

Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu
menghitung tahun-tahun berlalu
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.

Kasihan bangsa yang berpecah-belah,
dan masing-masing mengangap dirinya sebagai satu bangsa.

Thursday, March 17, 2011

Anak-anakmu by : Khalil Gibran

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa mereka itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan

Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh

Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang,
maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

By Khalil Gibran dari buku “Sang Nabi)

Siapakah Orang Gila Yang Sebenarnya?

Di dalam hadist diriwayatkan, pada suatu hari, Rasulullah SAW melewati sekelompok orang yang sedang berkumpul. Beliau bertanya, "Karena apa kalian berkumpul disini".
Para sahabat menjawab, " Ya Rasulullah, ini ada orang gila, sedang mengamuk. Karena itulah kami berkumpul disini?".
Beliau bersabda : "Orang ini bukan gila. Ia sedang mendapat musibah. Tahukah kalian, Siapakah orang gila yang benar-benar gila (al-majnun haqq al-majnun)?".
Para sahabat menjawab, "Tidak,ya Rasulullah...?" Beliau menjelaskan, "Orang gila adalah orang yang berjalan dengan sombong, yang memandang orang dengan pandangan yang merendahkan, yang membusungkan dada, berharap akan ada Surga Tuhan sambil berbuat maksiat kepadaNya, yang kejelekannya membuat orang tidak aman dan kebaikannya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya. Adapun orang ini, dia hanya sedang mendapat musibah saja."

Majnun, orang gila, berasal dari akar kata jannat, yang artinya menutupi. Dia masih mempunyai akal, tetapi akalnya itu tidak dapat menerangi perilakunya. Akalnya sudah dikuasai hawa napsunya. Dengan pengertian inilah Nabi Muhammad SAW, menyebut orang takabur sebagai majnun. Para sahabat menyebut majnun kepada orang yang perilakunya tidak normal (abnormal).

Sementara Nabi menyebut orang seperti itu dengan mubtala, orang yang mendapat musibah, orang sakit. Dia sakit karena tidak sanggup menanggung derita. Perilakunya yang aneh hanyalah teknik untuk melarikan diri dari kenyataan yang sangat menyakitkan : berpisah dengan orang yang dicintai, dikhianati sahabat, kehilangan pekerjaan, menghadapi buah simalakama, dsb.

Nabi SAW menyuruh kita melihat orang seperti itu sebagai orang yang patut kita bantu. Ia buka majnun, tetapi mubtala. Kita harus meringankan deritanya dan memberikan jalan keluar dari bala yang mengenainya. Ia bukan orang yang tertutup akalnya. Ia hanya orang yang hancur hatinya. Bukankah Tuhan berkata : "Carilah Aku ditengah-tengah orang yang hancur hatinya ?".

Orang yang kena bala harus didekati, tetapi orang gila harus dijauhi. Menurut Nabi SAW, ciri utama orang gila adalah takabur. Ia merasa dirinya besar dan merendahkan orang lain.

Takabur menutupi kenyataan bahwa ia tidak berbeda dengan yang lainnya. Ia hanya makhluk yang berasal dari nuthfah dan berakhir pada jifah (bangkai). Karena takabur, dia menjadi majnun. Akalnya tertutup. Takabur mengubah kedudukan, keturunan, dan kekayaan menjadi tirai baja yang menutup jati dirinya.

Rasulullah SAW berkata kepada Abu Dzarr, "Wahai Abu Dzarr, barang siapa mati dan dalam hatinya ada sebesar debu dari takabur, ia tidak akan mencium bau Surga, kecuali jika Ia bertaubat sebelum maut menjemputnya".
Abu Dzarr berkata: "Ya Rasulullah, Aku mudah terpesona dengan keindahan, Aku ingin gantungkan cambukku indah dan pasangan sandalku juga indah. Yang demikian itu membuatku takut”.
Rasulullah SAW bertanya : “Bagaimana perasaan hatimu ?".
Abu Dzarr menjawab : "Aku dapatkan hatiku mengenal kebenaran dan tentram didalamnya".
Rasulullah SAW bersabda : "Yang demikian itu tidak termasuk takabur. Takabur itu ialah meninggalkan kebenaran dan kamu mengambil selain kebenaran. Kamu melihat kepada orang lain dengan pandangan bahwa kehormatannya tidak sama dengan kehormatanmu, darahnya tidak sama dengan darahmu".

Walhasil, anda dikatakan 'Takabur' kalau anda tidak mau menerima kebenaran karena yang menyampaikan kebenaran itu rakyat kecil, Orang miskin, bawahan atau pegawai. Anda tidak mau mendengar nasehat dari Anak atau Istri anda, karena anda menganggap mereka lebih rendah dari anda. Anda tidak mau mendengar pembicaraan dari orang Islam yang pahamnya berbeda dengan anda karena anda menganggap mereka sesat dan Anda berada di jalan yang benar. Karena Anda mempunyai hubungan dekat dengan orang besar, Anda ingin diperlakukan sebagai orang istimewa dan hukum apapun tidak boleh berlaku untuk anda.

Karena anda merasa lebih berilmu, anda meremehkan orang yang anda anggap bodoh. Anda kecam mereka bahkan anda tertawakan kejahilan mereka. Kalau ilmu anda itu ilmu Agama, maka akan anda berikan gelar-gelar yang buruk kepada orang yang anda pandang tidak sepaham dengan anda. Anda khusukan Surga itu untuk kelompok anda dan neraka untuk kelompok lain. Anda sahkan semua ibadah anda dan anda batalkan ibadah yang lain. Pendeknya hanya anda dan kelompok andalah yang paling Islam di dunia ini.

Karena anda ahli ibadah maka anda merasa diri Anda yang paling salih diantara seluruh makhluk di Bumi ini. Anda sombong dengan shalat malam anda. Anda bangga dengan bacaan Alquran anda. Anda tinggi hati dengan haji dan umrah anda. Kemudian, anda merasa puas dengan ibadat anda dan lupa dengan akhlak anda di tengah-tengah masyarakat. Anda begitu puas dengan puasa anda, sehingga anda lupa pada fakir miskin disekitar anda. Anda begitu senang dengan shalat anda sehingga anda lupa memperbaiki akhlak anda.

Karena anda mempunyai kekayaan lebih dari kebanyakan orang, maka anda busungkan dada anda. Anda rendahkan orang-orang yang kurang kaya dibanding anda. Anda ciptakan kelompok eksklusif dan anda singkirkan ke pinggir, orang-orang yang lebih miskin dari anda. Anda menganggap mereka tidak selevel, tidak sederajat dan tidak sedarah dengan anda.

Karena anda merasa berkuasa, anda tidak segan-segan menggebuk orang yang tidak anda sukai. Anda tidak menghiraukan penderitaan rakyat kecil yang anda tindas dengan semena-mena. Anda menegakkan kekuasaan diatas keringat, air mata dan darah orang-orang yang tak berdaya.

Kalimat-kalimat diatas dapat anda gunakan untuk mendiagnosis apakah anda memiliki penyakit takabur. Satu saja diantara "gejala" itu anda rasakan, maka boleh jadi anda sudah menjadi orang yang betul-betul gila (almajnun haq-almjnun) sebagaimana sabda Rasulullah SAW di atas.
Wallahualam bissawab

*** dikutip tanpa izin dari buku Reformasi Sufistik , karya Prof.Dr.KH Jaluddin Rakhmat, Penerbit : Pustaka Hidayah, Nopember 2001

Wassalamualaikum wr.wb

Kisah Sufi : Mengundang Tuhan makan malam

Pada suatu hari, beberapa orang dari Bani Israil datang menemui Musa As dan berkata, "wahai Musa, bukankah engkau boleh bicara dgn Tuhan? Tolong sampaikan pada Nya, kami ingin mengundang Nya makan malam."

Musa marah luar biasa. Ia berkata bahwa Tuhan tdk perlu makan dan minum.

Ketika Musa datang ke gunung Sinai untuk berbicara dgn Tuhan, Tuhan bersabda, "Mengapa engkau tidak menyampaikan kepada-Ku undangan makan malam dari hamba-Ku?"

Musa menjawab, "Tapi Tuhanku engkau tidak makan. Engkau pasti tdk akan menerima undangan tolol seperti itu."

Tuhan berkata, "Simpan pengetahuan antara kau dan Aku. Katakan pada mereka, Aku akan datang memenuhi undangan itu."

Turunlah Musa dr gunung Sinai dan mengumumkan bahwa Tuhan akan datang untuk makan malam bersama Bani Israil. Tentu saja semua orang, termasuk Musa, menyiapkan jamuan yg amat mewah. Ketika mereka sedang sibuk memasak hidangan-hidangan terlezat dan mempersiapkan segalanya, seorang kakek tua muncul tanpa diduga. Orang itu miskin dan kelaparan. Ia meminta sesuatu untuk dimakan. Para koki yg sibuk memasak menolaknya, "Tidak, tidak kami sedang menunggu Tuhan. Nanti ketika Tuhan datang, kita makan bersama-sama."

Mengapa kamu tdk ikut membantu. Lebih baik kamu ikut mengambilkan air dari sumur!. Mereka tdk memberi apa-apa untuk kakek malang itu. Waktu berlalu, tetapi Tuhan ternyata tdk datang. Musa menjadi amat malu dan tdk tahu harus berkata apa kepada para pengikutnya.

Keesokkan harinya, Musa pergi ke Gunung Sinai dan berkata, "Tuhan, apa yg Kau lakukan kepadaku? Aku berusaha meyakinkan setiap orang bahwa Kau ada. Kau katakan Kau akan datang ke jamuan kami, tapi Kau ternyata tdk muncul. Sekarang tdk ada yg akan mempercayaiku lagi!"

Tuhan menjawab, "Aku datang. Jika saja kau memberi makan kepada hamba-Ku yg miskin, kau telah memberi makan kepada-Ku."

Tuhan bersabda, "Aku, Yang tidak bisa dimasukkan ke seluruh semesta, namun dapat masuk ke dalam hati hamba-Ku yg beriman."

Ketika kita berkhidmat kepada hamba Tuhan, kita tekah berkhidmat kepada-Nya. Ketika kita mengabdi kepada mahluk, sesungguhnya kita juga mengabdi kepada Sang Khalik.

Pada riwayat lain, Nabi Musa a.s. suatu ketika pernah bertanya kepada Tuhan, "Gerangan di mana aku dapat mencari-Mu?"

Tuhan Yang Maha Pengasih menjawab, "carilah AKU di tengah mereka yang hancur hatinya."

Makna apa sebenarnya yang tersembunyi dari cerita itu? Dialog tersebut sebenarnya mengisyaratkan bahwa Tuhan selalu hadir di tengah-tengah orang susah, orang-orang tertindas, orang-orang papa yang jauh dari kesejahteraan materi; dan Tuhan menghibur serta menolongnya.

Al Qur’an, Injil, dan Taurat, mengajarkan hikmah melalui cerita, tamsil, ibarat, perumpamaan. Jalaluddin Rumi, Khalil Gibran, maupun Idries Shah memilih cerita untuk menyampaikan ajarannya. Cerita mengkritik orang dengan terguran lembut, tanpa kesan menggurui.

Wallahualam bissawab.

Semoga bermanfaat
Wassalamualaikum wr.wb

CURRICULUM VITAE (RESUME) of IBLIS LAKNATULLAH ‘ALLAIHI (semoga Allah melaknatnya)

Assalamualaikum wr.wb
Muslimin Rahimakumullah.
Terlampir adalah CURRICULUM VITAE/ RESUME dari IBLIS LAKNATULLAH ‘ ALLAIHI (Semoga Allah melaknatnya) yang saya kutip dengan sedikit tambahan dari Buku Ustadz Quraish Shihab “Yang Tersembunyi dalam Al Qur’an dan As Sunnah”.

Allah SWT berfirman dalam Surah ke-35. Faathir ayat 6.
" Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala".

Semoga kita semua dijauhkan dari Iblis Laknatullah 'alaihi dan lulus sebagai orang2 yang beriman dan beramal shaleh serta kelak menjadi Penghuni Surga Al Jannah. Amiin

Semoga bermanfaat ya.
Syukran & Wassalam,
IPH

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
CURRICULUM VITAE (RESUME)
of
IBLIS LAKNATULLAH ‘ ALLAIHI


OBJECTIVES :
Melamar ummat manusia (anak cucu Adam a s) agar kufur / ingkar kepada Allah SWT
dan mengajak serta menjerumuskan sebanyak-banyak manusia agar masuk Neraka
Jahanam.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
DATA PRIBADI / BIODATA
-----------------------------------
Nama : IBLIS alias SETAN

Gelar : LAKNATULLAH ‘ ALLAIHI (semoga Allah melaknatnya)

Tgl lahir : Tahun pertama Perintah Allah agar Iblis sujud kepada Adam a s

Alamat : Di dalam hati orang-orang yang lengah dan lemah imannya;

Warganegara : Dunia

Agama : Kekufuran, Kemusyrikan dan Kemunafikan.

Pekerjaan : Pengasuh semua ummat manusia anak cucu Adam as yang sesat dan dimurkai
Allah SWT.

Pangkat/Gol. : Pembangkang Utama Kelas I

Jabatan : Panglima Tertinggi Kekufuran dan Kesyirikan serta Pimpinan Umum orang-orang
yang dimurkai Allah dan sesat

Singgasana : Di atas air

Masa Kerja : Sejak kelahiran Nabi Adam a.s sampai datangnya hari Kiamat.

Modal kerja : Penipu Ulung dan Pembohong Nomor wahid

Cara Kerja : Merayu manusia secara bertahap dari dosa yang kecil, hingga Syirik dan kufur
kepada`Allah SWT.

Bawahan : Setan jin dan setan manusia

Partner Kerja : Orang yang diam dari kebenaran

Agen Utama : Dukun dan paranormal

Sarana Kerja : Melalui Harta kekayaan, kedudukan/Jabatan, Seks dan semua Kegemerlapan dan
hiasan dunia lainnya serta kenikmatan sesaat.

Sumber rezeki: Semua yang diharamkan oleh Allah SWT.

Tempat operasi: Night club, Diskotek, Motel/Hotel, Panti Pijat, Mall, Pasar, WC/Toilet, Dapur dan
tempat-tempat yang kotor serta rumah yang tidak disebut nama Allah ketika
memasukinya

Hobi : Menyesatkan dan menjerumuskan seluruh ummat manusia agar kufur terhadap
Allah SWT;

Cita-cita : Seluruh ummat manusia Kufur dan masuk Neraka Jahanam secara kekal abadi.

Istri : Semua wanita yang hobi telanjang dan pamer aurat.


Anak / Cucu : Yang kufur, musyrik dan durhaka kepada orangtuanya

Yang ditakuti : Allah SWT dan RasulNya, Zikir dan Ayat Al Qur’an

Musuh utama : Allah SWT, Rasululllah, para Nabi dan orang-orang yang Beriman dan beramal
shaleh serta orang2 yang pandai bersyukur.

Sahabat utama: Semua Paranormal/Dukun/Tukang sihir, dan orang2 yang Kafir, Musyrik, Munafik,
Orang2 yang Sombong/Takabur dengan kekayaan dan kepintarannya, Rakus,
Pelit/bakhil, pembohong, pezina, Koruptor, tukang Ghibah (Gossip), pembunuh,
pemakan riba, orang2 yang durhaka kepada orangtua, dan orang-orang yang ingin
hidup kekal.

Motto : Kemunafikan adalah akhlak yang paling utama

Hobi : Menyesatkan manusia dan menjerumuskan ke dalam dosa

Lukisan kesayangan : Tato

Mata pencaharian : Mencari harta yang haram

Makanan favorit : Bangkai manusia (ghibah)

Tempat favorit : Tempat-tempat najis dan tempat maksiat

Tempat yang dibenci : Masjid, Majelis ilmu / Pengajian, Majelis Zikir dan tempat-tempat yang
membawa ketaatan

Kekuasaan : Nihil (Tidak ada kekuasaan sama sekali)

Kemampuan : Lemah

Wewenang : Merayu ummat manusia agar kufur dan musyrik serta berbuat dosa melalui semua
kesenangan dan kenikmatan dunia;

Alat Komunikasi: ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dusta dan melalui rasa was was dan
mengumpat

Yang paling disukai : Pemutusan Hubungan antara Tuhan dan manusia

Kepribadian : Angkuh dan sombong

Bentuk fisik : Tidak dapat dilihat, kalaupun ada yang pernah melihat pastilah bukan wujud
aslinya.

Jurus Andalan :
1. Memoles kebathilan
2. Menamakan Maksiat dengan nama yang indah
3. Menamakan Ketaatan dengan nama yang tidak disukai
4. Masuk melalui pintu yang disukai manusia
5. Menyesatkan manusia secara bertahap
6. Menghalang-halangi manusia dari kebenaran
7. Berlagak sebagai penasihat

Kelemahan :
1. Tidak berkutik di hadapan orang yang ikhlas
2. kewalahan menghadapi orang yang berilmu
3. Lari dari suara adzan dan suara zikir
4. Lari dari rumah yang dibacakan AL Qur'an
5. Menyingkir dari orang yang berdzikir kepada Allah
6. Menangis ketika melihat orang bersujud kepada Allah

------------------------------------------------------------------------------------
Dikutip tanpa izin dari : Buku Ustadz Quraish Shihab “Yang Tersembunyi dalam Al Qur’an dan As Sunnah”, Lentera, Cet 1, 2006, Halaman 278 dengan sedikit tambahan.

Semoga bermanfaat.
Wassalamualaikum wr.wb

"Aku Lebih Baik dari Dia (ana khairun minhu)”, suatu sifat Takabur Iblis

Suatu hari, Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa as, :"Hai Musa, bila nanti kau akan bertemu dengan-Ku lagi, bawalah seseorang yang menurutmu kamu lebih baik daripada dia".

Nabi Musa as lalu pergi kemana-mana; ke jalanan, pasar, dan tempat-tempat ibadat. Ia selalu menemukan dalam diri setiap orang itu suatu kelebihan dari dirinya.

Mungkin dalam beberapa hal yang lain, orang itu lebih jelek dari Nabi Musa, tetapi Nabi Musa selalu menemukan ada hal pada diri orang itu yang lebih baik dari dirinya. Nabi Musa tidak mendapatkan seorangpun yang terhadapnya Nabi Musa dapat berkata, "Aku lebih baik dari dia".

Karena gagal menemukan orang itu, Nabi Musa masuk ketengah-tengah binatang. Dalam diri binatang pun ternyata selalu ada hal-hal yang lebih baik daripada Nabi Musa. Seperti kita ketahui, burung Merak, misalnya, bulunya jauh lebih bagus dari bulu manusia. Sampai akhirnya Nabi Musa melewati seekor anjing kudisan. Nabi Musa berpikir, Mungkin sebaiknya aku pergi membawa dia. Ia pun lalu mengikat leher anjing itu dengan tali. Namun ketika sampai ke suatu tempat, Nabi Musa melepaskan anjing itu.

Ketika Nabi Musa datang untuk bermunajat lagi di hadapan Allah SWT, Allah bertanya, "Ya Musa, mana orang yang Aku perintahkan kepadamu untuk kaubawa? "
Nabi Musa menjawab, "Tuhanku, aku tidak menemukan seseorang pun yang aku lebih baik darinya".

Allah SWT lalu berfirman, "Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sekiranya kamu datang kepadaKu dengan membawa seseorang yang kamu pikir kamu lebih baik darinya, Aku akan hapuskan namamu dari daftar kenabian".

Kata ana khairun minhu atau Aku lebih baik dari dia pertama kali diucapkan oleh Iblis untuk menunjukkan ketakaburannya. Allah SWT menyuruhnya untuk sujud kepada Adam as tapi Iblis tidak mau. Ia beralasan, :”Aku lebih baik dari dia. Kau ciptakan aku dari api dan Kau ciptakan dia dari tanah.”

Takabur yang dilakukan oleh Iblis pertama kali itu adalah takabur karena nasab, takabur karena keturunan.

Menurut Al-Ghazali, di antara beberapa faktor yang menyebabkan orang menjadi takabur dan berfikir, Aku lebih baik dari dia, adalah nasab. Iblis adalah tokoh takabur karena nasab yang paling awal.

Kebanggaan atau kesombongan karena nasab ini pernah menjadi satu sistem dalam masyarakat feodal. Feodalisme adalah sistem kemasyarakatan yang membagi masyarakat berdasarkan keturunannya. Sebagian masyarakat disebut berdarah biru dan sebagian lagi berdarah merah.

Ada sebuah buku yang dengan secara terperinci mengkritik sebagian sayyid atau keturunan Rasulullah SAW yang merasa bahwa mereka lebih utama dari orang yang ukan sayyid. Sebagian sayyid itu berpendapat bahwa jika ada orang bukan sayyid yang beramal saleh sebanyak-banyaknya, derajatnya akan tetap lebih rendah dari seorang sayyid yang beramal maksiat.

Menurut penulis buku tersebut, seorang sayyid yang berpendapat seperti itu pastilah seorang sayyid yang ahmaq atau tolol.

Dalam salah satu buku itu, ia memberikan contoh sayyid yang berpikiran seperti itu sebagai orang yang takabur karena nasabnya. Ternyata, penulis buku itupun adalah seorang sayyid. Namanya Al-Sayyid Abdul Husain Asghai.

Penulis itu mengingatkan saya kepada Imam Ali Zainal Abidin. Ia pernah menangis terisak-isak di hadapan Baitullah. Thawus Al-Yamani mendekatinya dan bertanya, "Wahai Imam, mengapa engkau harus beribadat seperti ini? Bukankah kakekmu Rasulullah SAW dan ibumu Fathimah ?"
Lalu Imam dengan marah menjawab, "Jangan sebut-sebut di hadapanku ibuku dan kakekku, karena Allah SWT akan memberikan surga kepada siapa saja yang taat kepada-Nya, walaupun ia adalah seorang budak dari Afrika. Dan Allah akan memasukkan ke neraka siapa saja yang maksiat kepada-Nya walaupun ia adalah seorang sayyid dari bangsa Quraisy".

Berbangga sebagai keturunan Rasulullah SAW saja adalah suatu perbuatan takabur, apalagi berbangga sebagai keturunan bukan Rasulullah SAW. Orang yang berbangga karena keturunannya yang bukan Rasulullah SAW adalah seperti orang miskin yang takabur. Hal itu bukan berarti orang kaya boleh takabur. Orang kaya yang takabur pun akan dimasukkan ke neraka.

Kehormatan dalam Islam tidak ditegakkan berdasarkan nasab. Allah SWT berfirman, Innâ akramakum indallâhi atqâkum. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling takwa. (QS. Al-Hujrat 13 )

Pernah pada suatu hari, seseorang datang kepada Rasulullah SAW dengan membanggakan nasabnya. Di kalangan masyarakat Arab waktu itu, kebanggaan suatu nasab didasarkan pada jumlah jasa yang dilakukan nasab itu.

Karena itu, mereka sering menyebut-nyebut jasa orang tua mereka. Orang itu memperkenalkan dirinya dengan menyebut silsilah orang tuanya sampai keturunan kesembilan. Rasulullah SAW hanya menjawab pendek, Wa anta € âsyiruhum fin n€ âr. Dan engkau, keturunan yang kesepuluh, di neraka. Ia masuk neraka karena ketakaburannya.

Ketika berhadapan dengan orang yang takabur karena nasabnya, yang membanggakan kehebatan orang tuanya, Sayidina Ali berkata, Ucapan kamu benar. Tapi alangkah jeleknya yang dilahirkan oleh orang tuamu. Al-Ghazali membagi takabur kepada dua bagian. Pertama, takabur dalam urusan agama dan kedua, takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan agama dibagi lagi menjadi dua; takabur karena ilmu dan takabur karena amal.

Menurut Al-Ghazali, yang banyak takabur karena ilmu adalah para ilmuwan, filsuf, dan ulama. Apa tanda-tanda orang yang takabur karena ilmunya? Ia tidak mau mendengarkan nasihat dari orang yang lebih bodoh darinya. Ia merasa dirinya paling pintar dan tidak memerlukan bantuan orang lain.

Daniel Goleman, dalam bukunya Emotional Intelligence, menceritakan kisah dua orang yang lulus bersamaan dari perguruan tinggi. Satu orang di antaranya luar biasa pintar dan lulus dengan nilai tertinggi sementara seorang yang lain lulus dengan nilai pas-pasan. Dua tahun kemudian, diselidiki nasib kedua orang itu. Orang yang pintar itu ternyata menganggur sementara orang yang tidak pintar telah menjadi manajer di sebuah Perusahaan. Selidik punya selidik, ternyata orang pintar itu tidak tahan bekerja di satu tempat, karena dia tidak bisa bekerja sama dengan orang lain. Ia merasa dirinya pintar sehingga tidak memerlukan bantuan orang lain.

Takabur yang kedua di dalam urusan agama adalah takabur karena amal. Jika seseorang banyak beramal, ia bisa menjadi sombong. Dalam sebuah hadis diriwayatkan seseorang yang datang ke majelis Nabi. Orang itu dipuji para sahabat karena kebagusan ibadatnya. Tapi Nabi mengatakan, Aku melihat bekas tamparan setan di wajahnya. Nabi kemudian menyuruh sahabat membunuh orang itu. Orang itu merasa amal dirinya paling baik di antara orang lain. Di waktu lain, Rasulullah SAW bersabda, Jika ada seseorang yang berkata, Manusia ini semuanya sudah rusak, (dan ia merasa bahwa hanya dirinya yang tidak rusak) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya dia yang paling rusak.

Ada orang yang merasa amalnya sudah bagus sehingga dia merendahkan orang lain. Ada juga orang yang merasa dirinya amat saleh dan segera menganggap rendah orang lain yang tidak salat berjemaah di masjid seperti dirinya. Ia pun mengecam orang lain yang salatnya dijamak. Orang-orang seperti itu termasuk orang yang takabur karena amalnya.

Sayidina Ali mengajarkan kepada para pengikutnya, Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih muda, berpikirlah dalam hatimu: Pasti dosanya lebih sedikit dari dosaku. Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih tua, berpikirlah dalam hatimu: Pasti amalnya lebih banyak dari amalku." Setiap orang pasti ada kelebihannya. Kita juga punya kelebihan, tetapi hal itu tidak menyebabkan kita menjadi lebih mulia daripada orang lain. Begitu kita merasa diri kita lebih mulia dari orang lain dan ingin diperlakukan sebagai orang mulia secara diskriminatif, kita sudah jatuh kepada takabur. Takaburnya bisa karena ilmu atau karena amal.

Takabur bagian kedua menurut Al-Ghazali adalah takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan dunia disebabkan oleh beberapa hal :
Pertama, karena nasab, seperti telah dijelaskan di atas.
Kedua, karena harta kekayaan.
Ketiga, karena kekuasaan.
Keempat, karena kecantikan.
Kelima, karena banyaknya anak buah dan pengikut.
Penyakit yang terakhir ini biasanya diderita oleh para ulama.

Rasulullah SAW bersabda, Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat takabur walaupun hanya sebesar biji sawi. Kita dapat mengukur hati kita, apakah terdapat sebutir takabur atau tidak, dengan menjawab beberapa pertanyaan.

Pertanyaan-pertanyaan itu sebagai berikut:

• Ketika Anda masuk ke dalam sebuah majelis dan melihat kawan Anda yang setara dengan Anda duduk di tempat yang lebih mulia, sementara Anda duduk di tempat yang lebih rendah, apakah ada perasaan berat dalam diri Anda?

• Ketika Anda akan memilih menantu dan memperhatikan keturunan calon menantu itu, lalu ternyata keturunannya tidak sebanding dengan Anda, apakah Anda merasa berat menerimanya?

• Apakah Anda merasa berat menerima nasihat dari orang yang lebih rendah daripada Anda?

• Apakah Anda merasa berat untuk memakai pakaian yang jelek ketika menghadiri pengajian?

• Jika Anda menjawab ya untuk salah satu dari pertanyaan di atas, ketahuilah, Anda sudah jatuh ke dalam takabur.

Saya akhiri tulisan ini dengan sebuah hadis. Rasulullah SAW bersabda, "Pastilah orang yang takabur itu punya cacat dalam dirinya yang ia sembunyikan". Hadis itu saya kira sangat modern. Menurut Psikologi mutakhir, orang-orang yang arogan atau sombong di dunia ini sebetulnya adalah orang yang menderita cacat tertentu yang tidak kita ketahui dan mereka berusaha menutupinya.

Kita dapat mengobati perasaan takabur dengan istighfar dan bersikap tawadhu. Tidak ada obat bagi takabur selain bersikap rendah hati.

Rasulullah SAW bersabda, "Jika kamu temukan di antara umatku orang yang bersikap tawadhu, maka hendaklah kamu bersikap lebih tawadhu lagi kepada mereka. Dan apabila kamu temukan di antara umatku orang yang bersikap takabur, maka hendaklah kamu bersikap lebih takabur lagi kepada mereka".


Dikutip tanpa izin dari tulisan & Ceramah Prof. Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat pada Pengajian Ahad, tanggal 5 September 1999, di Masjid Al-Munawwarah, Bandung. Dengan beberapa perubahan redaksional, ceramah ini ditranskrip oleh Ilman Fauzi Rakhmat.

SEMOGA BERMANFAAT

Surat AL- `ASHR - Tafsir Al Azhar (Buya Hamka)

Assalamualaikum wr.wb
Muslimin dan Mukminin Rahimakumullah,
Sebagai bahan bacaan yang sangat perlu dan penting, Tafsir Al Azhar yg ditulis oleh Almarhum Buya Hamka (1908 – 1981), rasanya masih sangat relevan dan tidak kering dari dulu hingga kini bahkan untuk waktu mendatang, Insya Allah. Dengan bahasa melayu yang tinggi dan santun sesuai zaman masa itu. Tafsir Al Azhar Buya Hamka ini ditulis beliau di Penjara, pada tahun 1963, saat beliau di penjara oleh Rezim Orde Lama.

Almarhum Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), lahir tahun 1908, Maninjau, Sumatera Barat, dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981 karena sakit, adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama besar, dan aktivis politik pada zamannya. Beliau Imam Besar Masjid Al Azhar Kebayoran Baru sekaligus pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia.Semoga Allah SWT memberikan rahmat dan kebaikan yang banyak untuk Almarhum Buya Hamka di alam sana dan semoga beliau khusnul khotimah. Amiin
Terlampir adalah Tafsir Surah Al Ashr, dimana menurut Ibnu Katsir, surat Al-’Ashr merupakan surat yang sangat populer di kalangan para sahabat. Setiap kali para sahabat mengakhiri suatu pertemuan, mereka menutupnya dengan surat Al-’Ashr.

Imam Syafi’I dan juga Tafsir Mizan menyatakan bahwa walaupun surat Al-’Ashr pendek, tapi ia menghimpun hampir seluruh isi Al-Qur’an. Kalau Al-Qur’an tidak diturunkan seluruhnya dan yang turun itu hanya surat Al-’Ashr saja, maka itu sudah cukup untuk menjadi pedoman umat manusia.

Thabathaba’i menyebutkan, “Surat ini menghimpun seluruh pengetahuan Qur’ani. Surat ini menghimpun seluruh maksud Al-Qur’an dengan kalimat-kalimat yang indah dan singkat. Surat ini mengandung ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah, meskipun surat ini lebih tampak sebagai surat Makkiyah.”

Semoga bermanfaat.

Tafsir Al Azhar (Buya Hamka)
Surat AL- `ASHR(MASA) Surat 103: 3 ayat
Diturunkan di MAKKAH

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
1- Demi masa!
2- Sesungguhnya manusia itu adalah di dalam kerugian.
3- Kecuali orang yang beriman dan beramal yang shalih dan berpesan-pesanan dengan Kebenaran dan berpesan-pesanan dengan Kesabaran.

"Demi masa!" (ayat 1). Atau demi waktu `Ashar, waktu petang hari seketika bayang-bayang badan sudah mulai lebih panjang

"Demi masa!" (ayat 1). Atau demi waktu `Ashar, waktu petang hari seketika bayang-bayang badan sudah mulai lebih panjang daripada badan kita sendiri, sehingga masuklah waktu sembahyang `Ashar. Maka terdapatlah pada ayat yang pendek ini dua macam tafsir.

Syaikh Muhammad Abduh menerangkan di dalam Tafsir Juzu' `Amma bahwa telah teradat bagi bangsa Arab apabila hari telah sore[1], mereka duduk bercakap-cakap membicarakan soal-soal kehidupan dan ceritera-ceritera lain yang berkenaan dengan urusan sehari-hari. Karena banyak percakapan yang melantur[2], keraplah kejadian pertengkaran, bersakit-sakitan hati sehingga menimbulkan permusuhan. Lalu ada yang mengutuki waktu 'Ashar (petang hari), mengatakan waktu 'Ashar waktu yang celaka, atau naas[3], banyak bahaya terjadi di waktu itu. Maka datanglah ayat ini memberi peringatan "Demi 'Ashar", perhatikanlah waktu 'Ashar. Bukan waktu `Ashar yang salah. Yang salah adalah manusia-manusia yang mempergunakan waktu itu dengan salah.

Mempergunakannya untuk bercakap yang tidak tentu ujung pangkal. Misalnya bermegah-megah dengan harta, memuji diri, menghina merendahkan orang lain. Tentu orang yang dihinakan tiada terima, dan timbullah silang sengketa.

Lalu kamu salahkan waktu 'Ashar, padahal kamulah yang salah. Padahal kalau kamu percakapkan apa yang berfaedah, dengan tidak menyinggung perasaan teman dudukmu, tentulah waktu `Ashar itu akan membawa manfaat pula bagimu.
Inilah satu tafsir.

Tafsir yang lain; "Demi Masa!"

Masa seluruhnya ini, waktu-waktu yang kita lalui dalam hidup kita, zaman demi zaman, masa demi masa, dalam bahasa Arab `Ashr juga sebutannya. Sebagai semasa Indonesia dijajah

Belanda dapat disebut "`Ashru Isti'maril holandiy" (Masa penjajahan Belanda), "`Ashru Isti`maril Yabaniy", masa penjajahan Jepang. "`Ashrust Tsaurati Indonesia Al-Kubra", masa Revolusi Besar Indonesia, "`Ashrul Istiqlal", masa kemerdekaan dan sebagainya.

Berputarlah dunia ini dan berbagailah masa yang dilaluinya; suka dan duka, naik dan turun, masa muda dan masa tua. Ada masa hidup, kemudian mati dan tinggallah kenang-kenangan ke masa lalu.

Diambil Tuhanlah masa menjadi sumpah, atau menjadi sesuatu yang mesti diingat-ingati. Kita hidup di dunia ini adalah melalui masa. Setelah itu kita pun akan pergi. Dan apabila kita telah pergi, artinya mati, habislah masa yang kita pakai dan yang telah lalu tidaklah dapat diulang lagi, dan masa itu akan terus dipakai oleh manusia yang tinggal, silih berganti, ada yang datang dan ada yang pergi.

Diperingatkanlah masa itu kepada kita dengan sumpah, agar dia jangan disia-siakan, jangan diabaikan. Sejarah kemanusiaan ditentukan oleh edaran masa.

"Sesungguhnya manusia itu adalah di dalam kerugian." (ayat 2). Di dalam masa yang dilalui itu nyatalah bahwa manusia hanya rugi selalu. Dalam hidup melalui masa itu tidak ada keuntungan sama-sekali. Hanya rugi jua yang didapati: Sehari mulai lahir ke dunia, di hari dan sehari itu usia sudah kurang satu hari. Setiap hari dilalui, sampai hitungan bulan dan tahun, dari rnuda ke tua, hanya kerugian jua yang dihadapi.

Di waktu kecil senanglah badan dalam pangkuan ibu, itu pun rugi karena belum merasai arti hidup. Setelah mulai dewasa bolehlah berdiri sendiri, beristeri atau bersuami. Namun kerugian pun telah ada. Sebab hidup mulai bergantung kepada tenaga dan kegiatan sendiri, tidak lagi ditanggung orang lain.

Sampai kepada kepuasan bersetubuh suami isteri yang berlaku dalam beberapa menit ialah untuk menghasil anak yang akan dididik dan diasuh, menjadi tanggungjawab sampai ke sekolahnya dan pengguruannya untuk bertahun-tahun.

Di waktu badan masih muda dan gagah perkasa harapan masih banyak. Tetapi bilamana usia mulai lanjut barulah kita insaf bahwa tidaklah semua yang kita angankan di waktu muda telah tercapai.

Banyak pengalaman di masa muda telah menjadi kekayaan jiwa setelah tua. Kita berkata dalam hati supaya begini kerjakan, jangan ditempuh jalan itu, begini mengurusnya, begitu melakukannya. Pengalaman itu mahal sekali. Tetapi kita tidak ada tenaga lagi buat mengerjakannya sendiri. Setinggi-tingginya hanyalah menceriterakan pengalaman itu kepada yang muda.

Sesudah itu kita bertambah nyanyuk, bertambah sepi; bahkan kadang-kadang bertambah menjadi beban berat buat anak-cucu. Sesudah itu kita pun mati!

Itu kalau umur panjang. Kalau usia pendek kerugian itu akan lebih besar lagi. Belum ada apa-apa kita pun sudah pergi. Kerugianlah seluruh masa hidup itu. Kerugian!
"Kecuali orang yang beriman." (pangkal ayat 3). Yang tidak akan merasakan kerugian dalam masa hanyalah orang-orang yang beriman. Orang-orang yang mempunyai kepercayaan bahwa hidupnya ini adalah atas kehendak Yang Maha Kuasa. Manusia datang ke dunia ini sementara waktu; namun masa yang sementara itu dapat diisi dengan baik karena ada kepercayaan; ada tempat berlindung. Iman menyebabkan manusia insaf dari mana datangnya. Iman menimbulkan keinsafan guna apa dia hidup di dunia ini, yaitu untuk berbakti kepada Maha Pencipta dan kepada sesamanya manusia. Iman menimbulkan keyakinan bahwasanya sesudah hidup yang sekarang ini ada lagi hidup. Itulah hidup yang sebenarnya, hidup yang baqa. Di sana kelak segala sesuatu yang kita lakukan selama masa hidup di dunia ini akan diberi nilainya oleh Allah. "Dan beramal yang shalih," bekerja yang baik dan berfaedah. Sebab hidup itu adalah suatu kenyataan dan mati pun kenyataan pula, dan manusia yang di kekling kita pun suatu kenyataan pula.

Yang baik terpuji di sini, yang buruk adalah merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain. Sinar Iman yang telah tumbuh dalam jiwa itu dan telah menjadi keyakinan, dengan sendinnya menimbulkan perbuatan yang baik. Dalam kandungan perut ibu tubuh kita bergerak. Untuk lahir ke dunia kita pun bergerak. Maka hidup itu sendiri pun adalah gerak. Gerak itu adalah gerak maju! Berhenti sama dengan mati. Mengapa kita akan berdiam diri? Mengapa kita akan menganggur? Tabiat tubuh kita sendiri pun adalah bergerak dan bekerja. Kerja hanyalah satu dari dua, kerja balk atau kerja jahat. Setelah kita meninggalkan dunia ini kita menghadapi dua kenyataan. Kenyataan pertama adalah sepeninggal kita, yaitu kenang-kenangan orang yang tinggal. Dan kenyataan yang kedua ialah bahwa kita kembali ke hadhirat Tuhan.

Kalau kita beramal shalih di masa hidup, namun setelah kita mati kenangan kita akan tetap hidup berlama masa. Kadang-kadang kenangan itu hidup lebih lama daripada masa hidup jasmani kita sendiri. Dan sebagai Mu'min kita percaya bahwa di sisi Allah amalan yang kita tinggalkan itulah kekayaan yang akan kita hadapkan ke hadapan Hadhrat llahi.

Sebab itu tidaklah akan rugi masa hidup kita.

"Dan berpesan-pesanan dengan Kebenaran.'' Karena nyatalah sudah bahwa hidup yang bahagia itu adalah hidup bermasyarakat. Hidup nafsi-nafsi adalah hidup yang sangat rugi. Maka hubungkanlah tali kasih-sayang dengan sesama manusia, beri-memberi ingat apa yang benar. Supaya yang benar itu dapat dijunjung tinggi bersama. ingat-memperingatkan pula mana yang salah, supaya yang salah itu sama-sama dijauhi.

Dengan demikian beruntunglah masa hidup. Tidak akan pernah merasa rugi. Karena setiap peribadi merasakan bahwa dirinya tidaklah terlepas dari ikatan bersama. Bertemulah pepatah yang terkenal: "Duduk seorang bersempit-sempit, duduk ramai berlapang-lapang." Dan rugilah orang yang menyendiri, yang menganggap kebenaran hanya untuk dirinya seorang.

"Dan berpesan-pesanan dengan Kesabaran. " (ujung ayat 3). Tidaklah cukup kalau hanya pesan-memesan tentang nilai-nilai Kebenaran. Sebab hidup di dunia itu bukanlah jalan datar saja. Kerapkali kaki ini terantuk duri, teracung kerikil. Percobaan terlalu banyak. Kesusahan kadang-kadang sama banyaknya dengan kemudahan. Banyaklah orang yang rugi karena dia tidak tahan menempuh kesukaran dan halangan hidup. Dia rugi sebab dia mundur, atau dia rugi sebab dia tidak berani maju. Dia berhenti di tengah perjalanan. Padahal berhenti artinya pun mundur. Sedang umur berkurang juga.

Di dalam al-Quran banyak diterangkan bahwa kesabaran hanya dapat dicapai oleh orang yang kuat jiwanya, (Surat Fushshilat; 41; 35). Orang yang lemah akan rugilah.
Maka daripada pengecualian yang empat ini: (1) Iman, (2) Amal shalih, (3) Ingat-mengingat tentang Kebenaran, (4) Ingat-mengingat tentang Kesabaran, kerugian yang mengancam masa hidup itu pastilah dapat dielakkan.

Kalau tidak ada syatat yang empat ini rugilah seluruh masa hidup.
Ibnul Qayyim di dalam kitabnya "Miftahu Daris-Sa'adah" menerangkan; "Kalau keempat martabat telah tercapai oleh manusia, hasillah tujuannya menuju kesempumaan hidup.

Pertama: Mengetahui Kebenaran. Kedua: Mengamalkan Kebenaran itu. Ketiga: Mengajarkannya kepada orang yang belum pandai memakaikannya. Keempat: Sabar di dalam menyesuaikan diri dengan Kebenaran dan mengamalkan dan mengajarkannya. Jelaslah susunan yang empat itu di dalam Surat ini.

Dalam Surat ini Tuhan menerangkan martabat yang empat itu. Dan Tuhan bersumpah, demi masa, bahwasanya tiap-tiap orang rugilah hidupnya kecuali orang yang beriman. Yaitu orang yang mengetahui kebenaran lalu mengakuinya. Itulah martabat pertama.
Beramal yang shalih, yaitu setelah kebenaran itu diketahui lalu diamalkan; itulah martabat yang kedua.

Berpesan-pesanan dengan Kebenaran itu, tunjuk menunjuki jalan ke sana. Itulah martabat ketiga.

Berpesan-pesanan, nasihat-menasihati, supaya sabar menegakkan kebenaran dan teguh hati jangan bergoncang. Itulah martabat keempat. Dengan demikian tercapailah kesempumaan.

Sebab kesempumaan itu ialah sempurna pada diri sendiri dan menyempumakan pula bagi orang lain. Kesempurnaan itu dicapai dengan kekuatan ilmu dan kekuatan amal. Buat memenuhi kekuatan ilmiah ialah iman. Buat peneguh kekuatan amaliah ialah berbuat amal yang shalih. Dan menyempumakan orang lain ialah dengan mengajarkannya kepada mereka dan mengajaknya bersabar dalam berilmu dan beramal.

Lantaran itu meskipun Surat ini pendek sekali namun isinya mengumpulkan kebajikan dengan segala cabang rantingnya. Segala pujilah bagi Allah yang telah menjadikan kitabnya mencukupi dari segala macam kitab, pengobat dari segala macam penyakit dan penunjuk bagi segala jalan kebenaran." Sekian kita salin dari Ibnul Qayyim.
Ar-Razi menulis pula dalam tafsimya: "Dalam Surat ini terkandung peringatan yang keras. Karena sekalian manusia dianggap rugilah adanya, kecuali barangsiapa yang berpegang dengan keempatnya ini. Yaitu: Iman, Amal Shalih, Pesan-memesan kepada Kebenaran dan Pesan-memesan kepada Kesabaran. Itu menunjukkan bahwa keselamatan hidup bergantung kepada keempatnya, jangan ada yang tinggal. Dan dapat juga diambil kesimpulan dari Surat ini bahwa mencari selamat bukanlah untuk diri sendiri saja, melainkan disuruh juga menyampaikan, atau sampai-menyampaikan dengan orang lain. Menyeru kepada Agama, Nasihat atas Kebenaran, Amar ma'ruf nahyi munkar, dan supaya mencintai atas saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya. Dua kali diulang tentang pesan-memesan, wasiat mewasiati, karena pada yang pertama menyerunya kepada jalan Allah dan pada yang kedua supaya berteguh hati menjalankannya. Atau pada yang pertama menyuruh dengan yang ma'ruf dan pada yang kedua mencegah dari yang munkar. Di dalam Surat Luqman, 21; 17 dengan terang-terang ditulis wasiat Luqman kepada anaknya agar dia suka menyuruh berbuat baik, mencegah berbuat munkar dan bersabar atas apa pun jua yang menimpa diri.

Menurut keterangan Ibnu Katsir pula di dalam tafsirnya: "Suatu keterangan daripada ath-Tabrani yang ia terima dari jalan Hamaad bin Salmah, dari Tsabit bin `Ubaidillah bin Hashn: "Kalau dua orang sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. bertemu, belumlah mereka berpisah melainkan salah seorang di antara mereka membaca Surat al-`Ashr ini terlebih dahulu, barulah mereka mengucapkan salam tanda berpisah."

Syaikh Muhammad Abduh dalam menafsirkan Hadis pertemuan dan perpisahan dua sahabat ini berkata: "Ada orang yang menyangka bahwa ini hanya semata-mata tabarruk (mengambil berkat) saja. Sangka itu salah. Maksud membaca ketika akan berpisah ialah memperingatkan isi ayat-ayat, khusus berkenaan dengan pesan-memesan Kebenaran dan pesan-memesan atas Kesabaran itu, sehingga meninggalkan kesan yang baik."

Imam asy-Syafi'i berkata: "Kalau manusia seanteronya sudi merenungkan Surat ini, sudah cukuplah itu baginya."

Syaikh Muhammad Abduh menafsirkan Surat ini dengan tersendiri, dan Sayid Rasyid Ridha pernah mencetak Tafsiran gurunya ini dengan sebuah buku tersendiri pula, dan menjadi salah satu pelajaran kami di Sumatera Thawalib, Padang Panjang pada tahun 1922.

Wallahualam bissawab.

Maha Benar Allah dengan segala FirmanNya.

Wassalamualaikum wr.wb
Imam Puji Hartono