I’ll be straight and to the point - without readers your blog will never make money. You need new readers and faithful ones that will keep coming back and spread the word. How do you get people to come to your blog in the first place? And, once you get them there how do you keep them?
Getting Traffic to Your Blog
Search Engine Traffic – Pay attention to keywords and phrases when you publish your blog posts and other pages. These will help your blog rank higher in the search engines and bring targeted visitors (those really interested in what you have to say) to you.
Word of Mouth – Give some incentive for your readers to tell others about your blog. You can offer contests and giveaways where the winner has to link to the contest or post a Tweet on Twitter about the contest, etc. We’ll talk more about these things in a bit.
Comment on Other Blogs - Find blogs that fit with yours and visit them, read what the author posts and make comments on their posts. When you make comments on other blogs you are normally given the opportunity to link to your site – use it!
Article Marketing – We talked about article directories earlier, but this time you’ll be the one submitting the articles for others to pick up and post on their websites and blogs. Be sure you link to your blog in the resource box so people who read the article can visit your site to learn more.
Learn how to implement article marketing in a way that effectively drives tons of targeted visitors to your blog with this – Easy Article Marketing
Hold Contests & Giveaway Freebies – Contests and free items are hot! Everybody loves a good freebie and the chance to win something. There are tons of things you can giveaway on your blog – from reports to physical products. Some people have found success with using a weekly freebie (Freebie Friday) post. Don’t be afraid to create your own free content and give your readers the opportunity to pass those things on to others. Just don’t forget to include a link to your blog within the content so they’ll know where to find more of your great information.
Here's a free report about holding a contest on your blog:
http://www.webtrafficbasics.com/BoostTrafficwithaBlogContest.pdf
Add a Product Review Section – Create a section on your blog just for recommending products that your readers would be interested in. For instance, if your blog is for those wanting to work from home, include reviews of work at home job sites, products that help make the work at home office more efficient and things of that nature.
Everybody looks to others before making a purchase to get advice and opinions. They don’t want to spend their hard earned money on something they’ll never use or that doesn’t give them what they were hoping for. Be the one to share your opinions about products and services (don’t forget to add your affiliate links within the reviews) with your readers.
Add a Recipe Section – If it fits your market another item that is hot on the Internet is recipes. Add a recipe section to your blog and watch your visitor numbers rise. Recipes are a cinch to add to your blog and you don’t have to write them yourself. Check out YummyPLR.com to get your hands on PLR recipes you can add to your website each and every month.
WebTrafficBasics.com – Sign up for this free course where
you’ll learn how to drive traffic to your blog.
Keeping Your Visitors Around
The best way to keep your readers coming back is to offer them quality, valuable content on a consistent basis. That’s what they come for so give them what they want.
Another great way to keep your visitors coming back is to give them the opportunity to sign up to receive reminders about your blog. You can do this with an RSS feed and a newsletter or ezine. Keeping in touch with them on a regular basis, whether weekly, twice a month or monthly, will keep your blog and you fresh in their minds.
The Time is Now!
You are now equipped with more than enough information to create your own blog, or take your current blog to the next level, without typing the letters of your keyboard or spending hours of your precious time at the computer. The only thing left to do now is apply what you’ve learned.
You’ll find a list of resources I personally recommend below. You can check out the ones you think will help you and leave the ones you don’t need. Whatever you do, never, from this point on think you have to spend the rest of your life writing your own blog content. Heck no, life is too short for that, right? ;)
Best of Luck! I hope to see your blog making you profits and hitting the top of the best blogs lists soon!
Showing posts with label book. Show all posts
Showing posts with label book. Show all posts
Saturday, August 6, 2011
Monday, January 17, 2011
Jagalah Otak Anda!
Sebuah Kata Pengantar Kang Jalal (Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat) untuk buku "Bedah Otak" tulisan Tauhid Nur Azhar
Di sebelah barat Amerika, pada masa Wild West, 13 September 1848. Sebuah kecelakaan bersejarah terjadi. Kecelakaan yang mengubah paradigma dalam kedokteran dan psikologi. Seperti dalam cerita-cerita cowboy, semuanya bermula dari pembangunan rel kereta api. Phineas Gage adalah yang punya lakon. Ia memimpin sekelompok orang yang bertugas meledakkan bukit dan bebatuan. Pada siang hari yang panas, Gage memasukkan mesiu ke dalam lubang di bukit batu. Secara tidak sengaja ia mendorong mesiu itu dengan batang besi yang pendek. Tiba-tiba mesiu meledak tepat di depan wajahnya. Batang besi itu menerobos masuk dari pipi kirinya, melintasi otak di belakang matanya, menyeruak ke luar batok kepalanya, dan mendarat kira-kira 23 meter di sampingnya.
“Setelah luka kepalanya sembuh, Gage tampak hidup normal. Ia berbicara rasional dan kemampuan berpikirnya tampak utuh. Tapi segera orang melihat ada perubahan besar dalam dirinya. Dahulu Gage dikenal sebagai pengusaha yang sabar, energis, dan cerdas dengan “jiwa yang serasi”. Setelah kecelakaan, ia tampaknya kehilangan beberapa karakternya yang esensial. Ia menjadi kasar, berangasan, pemberang, temperamental.
Walaupun ia melahirkan banyak rencana, ia tidak mampu melaksanakannya. Menurut orang yang mengenalnya, “Gage bukan lagi Gage yang dahulu.” (Norman E. Rosenthal, The Emotional Revolution)
Sebelum kecelakaannya, pada usia 25 tahun, Gage mampu memimpin kelompok besar. Setelahnya, ia tidak mampu melakukan pekerjaan yang rutin. Ia mengembara ke segenap pelosok negeri tanpa ikatan personal dengan siapa pun. Pada usia 38 tahun, ia meninggal secara misterius setelah berkali-kali mendapat serangan kejang-kejang (tidak salah lagi karena kecelakaan itu). Kepalanya diawetkan”
Kecelakaan itu memperjelas hubungan antara apa yang terjadi pada otak dengan perilaku manusia. Sebagian kecil otak yang rusak karena batang besi itu telah mengubah perilaku dan akhirnya jalan kehidupan Gage. Dengan teknologi brain-scanning yang mutakhir, kepala Gage diteliti lagi. Dr Antonio Damasio, direktur Brain and Creativity Institute, Amerika, dengan timnya menyimpulkan bahwa perilaku Gage yang aneh terjadi karena kerusakan pada korteks prefrontal, bagian otak paling depan, tepat di belakang dahi. Semua pasien yang mengalami kerusakan pada bagian otak itu mengalami transformasi kepribadian yang mengenaskan. Mereka menjadi kasar, tumpul perasaan, pembual, dan gagal dalam hubungan interpersonal. Ketika bergaul dengan orang lain, ia mirip robot yang tanpa hati, tanpa rasa, juga tanpa kendali. Mereka bisa lulus dalam tes kecerdasan, tapi gagal dalam merencanalan masa depan. Mereka sulit mengambil keputusan. Rupanya, tanpa melibatkan emosi, kita tidak bisa menentukan mana yang harus kita lakukan. Salah seorang pasien Damasio, walaupun cerdas, tidak bisa menentukan kepan dan jam berapa ia ketemu lagi dengan dokternya.
Dahulu, diperlukan ada kecelakaan untuk mengetahui pengaruh otak pada perilaku manusia. Sekarang, berkat teknologi kedokteran mutakhir, kita dapat melihat kerusakan otak kapan pun. Di antara teknologi scanning yang menakjubkan adalah SPECT, singkatan “single photon emission computed tomography”. Anda tidak perlu menghapalnya dan tidak usah menerjemahkannya. Karena menyangkut emisi foton, wilayah yang membicarakannya termasuk kedokteran nuklir. Satu dosis kecil radioisotof diinjeksikan ke dalam darah. Darah mengalir ke dalam otak, membawa radioisotof itu. Berbeda dengan MRI dan CAT yang menunjukkan anatomi otak dan bagaimana otak kelihatan, SPECT merekam fungsi otak dan bagaimana otak bekerja. Kita dengarkan penjelasan Dr Amen, direktur rumahsakit dst, tentang SPECT: “Hasil SPECT sebenarnya sangat mudah dibaca dan dipahami. Kami melihat daerah-daerah dalam otak yang bekerja baik, daerah-daerah yang bekerja terlalu keras, dan daerah-daerah yang bekerja lamban.” Kerja otak yang bermacam-macam itu menimbulkan perilaku yang bermacam-macam.
Dr Daniel G. Amen mengumpulkan gambar hasil SPECT dari ribuan orang. Sebagai orang awam, saya terkesan dengan penampilan otak. Sama seperti wajah-wajah kita,” muka otak” pun bermacam-macam. Mulai dari muka yang paling jelek, yang tampak seperti monster, sampai pada muka yang paling cantik, yang enak dipandang. Anda sudah bisa menebaknya: Muka yang jelek adalah otak yang terluka; dan muka yang cantik adalah otak yang sehat. Amen menghubungkan perbedaan muka otak itu dengan perilaku. Muka yang jelek melahirkan perilaku yang –ia sebut- brain-driven. Muka yang baik menimbulkan perilaku yang will-driven.
Ketika otak Anda sehat, Anda bekerja produktif, mengambil keputusan dengan bijak, menetapkan tujuan, dan bergerak aktif untuk mencapai tujuan itu. Anda juga mampu mengendalikan diri, tahan menghadapi penderitaan, dan bergaul dengan orang tanpa menimbulkan gangguan pada mereka. Pada waktu haji Wada’, Nabi saw mendefinisikan Muslim. “Muslim ialah orang yang tidak mengganggu orang lain dengan lidah dan tangannya.” Muslim, menurut neurologi dan ahli bedah otak, adalah orang yang otaknya sehat. Ia berperilaku dengan melakukan pilihan-pilihan, yang mendatangkan kebaikan kepada dirinya.
Ketika otak Anda terluka, bergantung pada bagian mana yang terluka, jalan pikiran Anda menjadi kacau. You trouble until the trouble troubles you. Kamu mengganggu orang sampai gangguan itu akhirnya mengganggu kamu juga. Perilaku kamu sudah berada di luar kontrol kamu. Kamu sepenuhnya dikendalikan oleh peristiwa-peristiwa biokimia dalam otakmu. Dr Amen memberikan contoh tentang orang yang perilakunya brain-driven.
Otak yang terluka
Karena pandangannya yang kontroversial –bahwa akhlak yang buruk disebabkan otak yang luka- para penegak hukum meminta Amen melakukan SPECT pada para pelaku kejahatan. Apakah ia melakukan tindak kekerasan karena will-driven atau brain-driven? Saya akan mempersilakan Dr Amen menceritakan salah satu kasus yang membawanya pada posisi saksi ahli:
Peter Chiesa, seorang suami yang berusia 62 tahun, telah bertengkar dengan tetangganya selama 12 tahun, karena masalah pohon yang condong ke rumah tetangganya. Mereka telah mengajukan masalah ini ke pengadilan. Tapi bahkan setelah ada keputusan pengadilan pun , pertengkaran itu tidak berhenti. Selama dua belas tahun ini tingkah laku Peter makin lama makin tidak rasional. Ia pernah mengalami luka otak ketika ia jatuh dari tumpukan jerami dan kehilangan kesadaran selama beberapa saat; ia juga mengalami strok dan jantungnya harus mengalami bypass. Bedah jantungnya itu sering dihubungkan dengan resiko kesulitan berfikir yang serius dan dementia awal.
Semua faktor ini sangat mungkin menyebabkan Peter makin paranoid dan mudah tersinggung. Ia berusaha berobat pada psikiater, dan istrinya yang dua belas tahun lebih muda, menjadi sangat keras mengawasinya. Pada suatu hari ketika istrinya sedang bekerja, Peter terbangun karena mendengar suara gergaji. Ia yakin tetangganya sedang memotong cabang-cabang pohon yang diperebutkannya.
Dengan murka, ia menelepon 911, kantor polisi. “Aku akan membunuh cewe-cewe bajingan,” ia berteriak pada operator. “Kalian harus segera mengirim orang ke sini.” Ia kemudian mengambil senjata Magnum berkaliber .357 dan menghadapi dua orang perempuan yang sedang menjarah pohonnya. Sambil ditonton oleh dua orang anak laki-laki, Peter menembak dan membunuh kedua perempuan itu.
George Wilkinson, psikiater yang mengevaluasi Peter untuk pembelaan, meminta saya untuk menscan otak Peter. Seperti dugaan semua orang, otaknya menderita kerusakan berat, terutama pada korteks prefrontal (pusat penilaian) dan lobus temporal (yang berusan dengan memori, stabilitas mood, dan agresi). Hasil scan diperlihatkan di pengadilan. Tujuannya bukan untuk membebaskan dia- itu tidak terjadi dan tidak boleh terjadi, terutama karena dengan dingin ia membunuh dua orang perempuan yang tidak bersalah dengan disaksikan oleh anak-anaknya- tapi untuk memperlihatkan kepada juri bahwa Peter bertingkahlaku tidak sebagai orang normal, yang bisa mengakses semua kemampuan mentalnya. Keputusan hakim padanya memang bisa jadi hukuman mati.
Ketika saya berdiri sebagai saksi, jaksa bertanya, “Dr Amen, apakah menurut Anda Mr Chiesa punya masalah serius pada korteks prefrontal, bagian otak yang merencanakan?”
“Benar, Pak,” jawabku.
“Tapi bukankah tindakan Mr Chiesa menelpon 911 sebelum membunuh menunjukkan perencanaan yang baik?” Jaksa bertanya dengan menyindir.
“Tidak!” Aku jawab dengan tegas. “Menelepon 911 menunjukkan perencanaan yang buruk. Betapa bodohnya menelepon 911 untuk merencanakan pembunuhan.” Saya melanjutkan. “Ketika kita tersinggung, banyak di antara kita yang ingin melakukan tindakan kekerasan seperti : “Aku bunuh mereka”, tetapi kita tidak akan menelepon 911 dan melakukan tindakan berdasarkan pikiran yang buruk. Kalau ia merencanakan dengan baik, ia akan mandi dahulu, makan sedikit, atau berjalan-jalan. Ia tidak akan membunuh perempuan di hadapan anak-anaknya dengan dingin, lalu menghabiskan sisa umurnya meringkuk di penjara hanya karena urusan cabang pohon yang digergaji.” Penuntut umum keberatan, tapi juri mendengarkan setiap perkataanku. Peter divonis membunuh tingkat dua (second degree murder) dan bukan membunuh tingkat pertama sehingga ia tidak dijatuhi hukuman mati (Daniel G. Amen, Making a Good Brain Great).
Peter Chiesa dan Phineas Gage mengalami perubahan tingkah-laku karena mengalami kerusakan otak pada korteks prefrontal. Otak Chiesa rusak karena benturan, dan otak Gage karena kecelakaan. Otak bisa terluka bukan hanya pada korteks prefrontal, tetapi juga pada bagian-bagian yang lain dengan akibat-akibat yang berbeda.
Seperti dicontohkan di atas, luka pada korteks prefrontal akan menyebabkan Anda sulit konsentrasi pada pekerjaan rutin, sulit mendengarkan, gagal menyelesaikan tugas, prokrastinasi (menunda-nunda), mudah beralih perhatian, impulsif (berkata atau bertindak tanpa berpikir lebih dahulu). Luka pada girus singulata membuat Anda cemas berlebihan, mudah tersinggung kalau terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Anda, gampang membantah atau menentang, mengulang-ulang pikiran negatif, menyimpan dendam, cenderung mengatakan “tidak” tanpa memperhatikan pertanyaannya.
Luka pada sistem limbik menyebabkan depresi, pikiran negatif, kehilangan kemampuan untuk menikmati hiburan, merasa putus asa akan masa depan, merasa tidak berdaya, tidak berharga, tidak berarti, bosan, ada perubahan pola tidur atau makan. Luka pada basal ganglia menyebabkan sering nerveus dan cemas, simptom ketegangan otot (sakit kepala, sakit-sakit tubuh), cenderung untuk meramalkan hal yang buruk, sensitif terhadap kritik, motivasi kerja yang berlebihan, diam terpaku menghadapi situasi yang mengancam. Luka pada lobus temporal mengakibatkan berubah-berubah mood dengan cepat, mudah tersinggung dan agresif, sering menafsirkan ucapan orang secara negatif, mudah panik tanpa alasan yang jelas, paranoia ringan, pikiran kelabu seperti mau bunuh diri atau bunuh orang, masalah memori.
Walhasil, kita menyaksikan betapa berbahayanya luka pada otak pada bukan saja perilaku kita tapi juga pada kehidupan kita. Luka pada tangan Anda hanya akan menimbulkan rasa sakit pada tangan Anda saja. Luka pada otak Anda akan menyebabkan Anda tidak lulus ujian, dijauhi kawan, bercerai dengan pasangan, menderita kesedihan, kehilangan masa depan, tidak sanggup mengendalikan kemarahan, pendeknya…kehilangan kebahagiaan.
Seberapa besar kemungkinan otak kita terluka? Besar sekali. Soalnya, otak kita mirip tahu yang mengambang dalam panci yang penuh air. Sangat lembek. Berbeda dengan kelapa, batok kepala yang menghadap ke dalam otak mempunyai permukaan yang kasar dan tajam. Ketika terjadi benturan, misalnya karena kecelakaan lalulintas atau ditendang dengan tendangan karate, atau –naudzu billah dibenturkan ke tembok, otak tidak bisa lari. Ia terpuruk dalam ruangan yang sempit. “Duri-duri” itu akan menusuk permukaan otak yang lembut. Terjadilah gegar otak, kata orang awam; atau konkusi, kata dokter. Konkusi sekecil apa pun tidak boleh dipandang remeh. Akibat buruknya bisa terjadi waktu itu juga; atau berangsur-angsur makin parah dalam perkembangan waktu.
Jadi apa yang harus kita lakukan? Bila Anda menderita gejala-gejala yang saya sebutkan di atas, ada baiknya ada minta ahli otak untuk menscan otak Anda. Apakah Anda menderita atau tidak menderita gejala-gejala itu, Anda harus memelihara dan melindungi otak Anda. Hindari tempat-tempat yang memungkinkan Anda jatuh. Pakai helm yang kuat ketika Anda mengendarai motor. Jangan lakukan olahraga atau latihan bela diri yang dapat mencederai kepala.
Kemajuan teknologi kedokteran dan farmakologi juga dapat membantu bukan saja memelihara kesehatan otak, tetapi juga mengembangkan dan meningkatkan kapasitas otak; supaya Anda lebih cerdas dan lebih bahagia. Buku yang Anda pegang sekarang ini ditulis untuk memperkenalkan Anda pada bagian dari diri Anda yang sekaligus menjadi jati diri Anda. Bukankah otak sebetulnya adalah software dari ruh Anda.
Tauhid Nur Azhar membawa kita berpesiar menjelajah otak dan menyaksikan cara kerjanya dalam berbagai dimensi kehidupan; sejak ketika kita berlari menghindari kecoa dan hantu, sampai ketika kita berkhidmat kepada sesama dan beribadat kepada Tuhan.
Setelah membaca pengantar saya ini dan memperoleh penjelasan lebih lanjut dalam buku ini, Anda pasti hanya punya satu pilihan: Syukuri otak, anugrah Tuhan yang menakjubkan ini, dengan merawatnya, menjaganya, melindunginya, dan mengembangkannya.
Wallahualam bissawab.
Di sebelah barat Amerika, pada masa Wild West, 13 September 1848. Sebuah kecelakaan bersejarah terjadi. Kecelakaan yang mengubah paradigma dalam kedokteran dan psikologi. Seperti dalam cerita-cerita cowboy, semuanya bermula dari pembangunan rel kereta api. Phineas Gage adalah yang punya lakon. Ia memimpin sekelompok orang yang bertugas meledakkan bukit dan bebatuan. Pada siang hari yang panas, Gage memasukkan mesiu ke dalam lubang di bukit batu. Secara tidak sengaja ia mendorong mesiu itu dengan batang besi yang pendek. Tiba-tiba mesiu meledak tepat di depan wajahnya. Batang besi itu menerobos masuk dari pipi kirinya, melintasi otak di belakang matanya, menyeruak ke luar batok kepalanya, dan mendarat kira-kira 23 meter di sampingnya.
“Setelah luka kepalanya sembuh, Gage tampak hidup normal. Ia berbicara rasional dan kemampuan berpikirnya tampak utuh. Tapi segera orang melihat ada perubahan besar dalam dirinya. Dahulu Gage dikenal sebagai pengusaha yang sabar, energis, dan cerdas dengan “jiwa yang serasi”. Setelah kecelakaan, ia tampaknya kehilangan beberapa karakternya yang esensial. Ia menjadi kasar, berangasan, pemberang, temperamental.
Walaupun ia melahirkan banyak rencana, ia tidak mampu melaksanakannya. Menurut orang yang mengenalnya, “Gage bukan lagi Gage yang dahulu.” (Norman E. Rosenthal, The Emotional Revolution)
Sebelum kecelakaannya, pada usia 25 tahun, Gage mampu memimpin kelompok besar. Setelahnya, ia tidak mampu melakukan pekerjaan yang rutin. Ia mengembara ke segenap pelosok negeri tanpa ikatan personal dengan siapa pun. Pada usia 38 tahun, ia meninggal secara misterius setelah berkali-kali mendapat serangan kejang-kejang (tidak salah lagi karena kecelakaan itu). Kepalanya diawetkan”
Kecelakaan itu memperjelas hubungan antara apa yang terjadi pada otak dengan perilaku manusia. Sebagian kecil otak yang rusak karena batang besi itu telah mengubah perilaku dan akhirnya jalan kehidupan Gage. Dengan teknologi brain-scanning yang mutakhir, kepala Gage diteliti lagi. Dr Antonio Damasio, direktur Brain and Creativity Institute, Amerika, dengan timnya menyimpulkan bahwa perilaku Gage yang aneh terjadi karena kerusakan pada korteks prefrontal, bagian otak paling depan, tepat di belakang dahi. Semua pasien yang mengalami kerusakan pada bagian otak itu mengalami transformasi kepribadian yang mengenaskan. Mereka menjadi kasar, tumpul perasaan, pembual, dan gagal dalam hubungan interpersonal. Ketika bergaul dengan orang lain, ia mirip robot yang tanpa hati, tanpa rasa, juga tanpa kendali. Mereka bisa lulus dalam tes kecerdasan, tapi gagal dalam merencanalan masa depan. Mereka sulit mengambil keputusan. Rupanya, tanpa melibatkan emosi, kita tidak bisa menentukan mana yang harus kita lakukan. Salah seorang pasien Damasio, walaupun cerdas, tidak bisa menentukan kepan dan jam berapa ia ketemu lagi dengan dokternya.
Dahulu, diperlukan ada kecelakaan untuk mengetahui pengaruh otak pada perilaku manusia. Sekarang, berkat teknologi kedokteran mutakhir, kita dapat melihat kerusakan otak kapan pun. Di antara teknologi scanning yang menakjubkan adalah SPECT, singkatan “single photon emission computed tomography”. Anda tidak perlu menghapalnya dan tidak usah menerjemahkannya. Karena menyangkut emisi foton, wilayah yang membicarakannya termasuk kedokteran nuklir. Satu dosis kecil radioisotof diinjeksikan ke dalam darah. Darah mengalir ke dalam otak, membawa radioisotof itu. Berbeda dengan MRI dan CAT yang menunjukkan anatomi otak dan bagaimana otak kelihatan, SPECT merekam fungsi otak dan bagaimana otak bekerja. Kita dengarkan penjelasan Dr Amen, direktur rumahsakit dst, tentang SPECT: “Hasil SPECT sebenarnya sangat mudah dibaca dan dipahami. Kami melihat daerah-daerah dalam otak yang bekerja baik, daerah-daerah yang bekerja terlalu keras, dan daerah-daerah yang bekerja lamban.” Kerja otak yang bermacam-macam itu menimbulkan perilaku yang bermacam-macam.
Dr Daniel G. Amen mengumpulkan gambar hasil SPECT dari ribuan orang. Sebagai orang awam, saya terkesan dengan penampilan otak. Sama seperti wajah-wajah kita,” muka otak” pun bermacam-macam. Mulai dari muka yang paling jelek, yang tampak seperti monster, sampai pada muka yang paling cantik, yang enak dipandang. Anda sudah bisa menebaknya: Muka yang jelek adalah otak yang terluka; dan muka yang cantik adalah otak yang sehat. Amen menghubungkan perbedaan muka otak itu dengan perilaku. Muka yang jelek melahirkan perilaku yang –ia sebut- brain-driven. Muka yang baik menimbulkan perilaku yang will-driven.
Ketika otak Anda sehat, Anda bekerja produktif, mengambil keputusan dengan bijak, menetapkan tujuan, dan bergerak aktif untuk mencapai tujuan itu. Anda juga mampu mengendalikan diri, tahan menghadapi penderitaan, dan bergaul dengan orang tanpa menimbulkan gangguan pada mereka. Pada waktu haji Wada’, Nabi saw mendefinisikan Muslim. “Muslim ialah orang yang tidak mengganggu orang lain dengan lidah dan tangannya.” Muslim, menurut neurologi dan ahli bedah otak, adalah orang yang otaknya sehat. Ia berperilaku dengan melakukan pilihan-pilihan, yang mendatangkan kebaikan kepada dirinya.
Ketika otak Anda terluka, bergantung pada bagian mana yang terluka, jalan pikiran Anda menjadi kacau. You trouble until the trouble troubles you. Kamu mengganggu orang sampai gangguan itu akhirnya mengganggu kamu juga. Perilaku kamu sudah berada di luar kontrol kamu. Kamu sepenuhnya dikendalikan oleh peristiwa-peristiwa biokimia dalam otakmu. Dr Amen memberikan contoh tentang orang yang perilakunya brain-driven.
Otak yang terluka
Karena pandangannya yang kontroversial –bahwa akhlak yang buruk disebabkan otak yang luka- para penegak hukum meminta Amen melakukan SPECT pada para pelaku kejahatan. Apakah ia melakukan tindak kekerasan karena will-driven atau brain-driven? Saya akan mempersilakan Dr Amen menceritakan salah satu kasus yang membawanya pada posisi saksi ahli:
Peter Chiesa, seorang suami yang berusia 62 tahun, telah bertengkar dengan tetangganya selama 12 tahun, karena masalah pohon yang condong ke rumah tetangganya. Mereka telah mengajukan masalah ini ke pengadilan. Tapi bahkan setelah ada keputusan pengadilan pun , pertengkaran itu tidak berhenti. Selama dua belas tahun ini tingkah laku Peter makin lama makin tidak rasional. Ia pernah mengalami luka otak ketika ia jatuh dari tumpukan jerami dan kehilangan kesadaran selama beberapa saat; ia juga mengalami strok dan jantungnya harus mengalami bypass. Bedah jantungnya itu sering dihubungkan dengan resiko kesulitan berfikir yang serius dan dementia awal.
Semua faktor ini sangat mungkin menyebabkan Peter makin paranoid dan mudah tersinggung. Ia berusaha berobat pada psikiater, dan istrinya yang dua belas tahun lebih muda, menjadi sangat keras mengawasinya. Pada suatu hari ketika istrinya sedang bekerja, Peter terbangun karena mendengar suara gergaji. Ia yakin tetangganya sedang memotong cabang-cabang pohon yang diperebutkannya.
Dengan murka, ia menelepon 911, kantor polisi. “Aku akan membunuh cewe-cewe bajingan,” ia berteriak pada operator. “Kalian harus segera mengirim orang ke sini.” Ia kemudian mengambil senjata Magnum berkaliber .357 dan menghadapi dua orang perempuan yang sedang menjarah pohonnya. Sambil ditonton oleh dua orang anak laki-laki, Peter menembak dan membunuh kedua perempuan itu.
George Wilkinson, psikiater yang mengevaluasi Peter untuk pembelaan, meminta saya untuk menscan otak Peter. Seperti dugaan semua orang, otaknya menderita kerusakan berat, terutama pada korteks prefrontal (pusat penilaian) dan lobus temporal (yang berusan dengan memori, stabilitas mood, dan agresi). Hasil scan diperlihatkan di pengadilan. Tujuannya bukan untuk membebaskan dia- itu tidak terjadi dan tidak boleh terjadi, terutama karena dengan dingin ia membunuh dua orang perempuan yang tidak bersalah dengan disaksikan oleh anak-anaknya- tapi untuk memperlihatkan kepada juri bahwa Peter bertingkahlaku tidak sebagai orang normal, yang bisa mengakses semua kemampuan mentalnya. Keputusan hakim padanya memang bisa jadi hukuman mati.
Ketika saya berdiri sebagai saksi, jaksa bertanya, “Dr Amen, apakah menurut Anda Mr Chiesa punya masalah serius pada korteks prefrontal, bagian otak yang merencanakan?”
“Benar, Pak,” jawabku.
“Tapi bukankah tindakan Mr Chiesa menelpon 911 sebelum membunuh menunjukkan perencanaan yang baik?” Jaksa bertanya dengan menyindir.
“Tidak!” Aku jawab dengan tegas. “Menelepon 911 menunjukkan perencanaan yang buruk. Betapa bodohnya menelepon 911 untuk merencanakan pembunuhan.” Saya melanjutkan. “Ketika kita tersinggung, banyak di antara kita yang ingin melakukan tindakan kekerasan seperti : “Aku bunuh mereka”, tetapi kita tidak akan menelepon 911 dan melakukan tindakan berdasarkan pikiran yang buruk. Kalau ia merencanakan dengan baik, ia akan mandi dahulu, makan sedikit, atau berjalan-jalan. Ia tidak akan membunuh perempuan di hadapan anak-anaknya dengan dingin, lalu menghabiskan sisa umurnya meringkuk di penjara hanya karena urusan cabang pohon yang digergaji.” Penuntut umum keberatan, tapi juri mendengarkan setiap perkataanku. Peter divonis membunuh tingkat dua (second degree murder) dan bukan membunuh tingkat pertama sehingga ia tidak dijatuhi hukuman mati (Daniel G. Amen, Making a Good Brain Great).
Peter Chiesa dan Phineas Gage mengalami perubahan tingkah-laku karena mengalami kerusakan otak pada korteks prefrontal. Otak Chiesa rusak karena benturan, dan otak Gage karena kecelakaan. Otak bisa terluka bukan hanya pada korteks prefrontal, tetapi juga pada bagian-bagian yang lain dengan akibat-akibat yang berbeda.
Seperti dicontohkan di atas, luka pada korteks prefrontal akan menyebabkan Anda sulit konsentrasi pada pekerjaan rutin, sulit mendengarkan, gagal menyelesaikan tugas, prokrastinasi (menunda-nunda), mudah beralih perhatian, impulsif (berkata atau bertindak tanpa berpikir lebih dahulu). Luka pada girus singulata membuat Anda cemas berlebihan, mudah tersinggung kalau terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Anda, gampang membantah atau menentang, mengulang-ulang pikiran negatif, menyimpan dendam, cenderung mengatakan “tidak” tanpa memperhatikan pertanyaannya.
Luka pada sistem limbik menyebabkan depresi, pikiran negatif, kehilangan kemampuan untuk menikmati hiburan, merasa putus asa akan masa depan, merasa tidak berdaya, tidak berharga, tidak berarti, bosan, ada perubahan pola tidur atau makan. Luka pada basal ganglia menyebabkan sering nerveus dan cemas, simptom ketegangan otot (sakit kepala, sakit-sakit tubuh), cenderung untuk meramalkan hal yang buruk, sensitif terhadap kritik, motivasi kerja yang berlebihan, diam terpaku menghadapi situasi yang mengancam. Luka pada lobus temporal mengakibatkan berubah-berubah mood dengan cepat, mudah tersinggung dan agresif, sering menafsirkan ucapan orang secara negatif, mudah panik tanpa alasan yang jelas, paranoia ringan, pikiran kelabu seperti mau bunuh diri atau bunuh orang, masalah memori.
Walhasil, kita menyaksikan betapa berbahayanya luka pada otak pada bukan saja perilaku kita tapi juga pada kehidupan kita. Luka pada tangan Anda hanya akan menimbulkan rasa sakit pada tangan Anda saja. Luka pada otak Anda akan menyebabkan Anda tidak lulus ujian, dijauhi kawan, bercerai dengan pasangan, menderita kesedihan, kehilangan masa depan, tidak sanggup mengendalikan kemarahan, pendeknya…kehilangan kebahagiaan.
Seberapa besar kemungkinan otak kita terluka? Besar sekali. Soalnya, otak kita mirip tahu yang mengambang dalam panci yang penuh air. Sangat lembek. Berbeda dengan kelapa, batok kepala yang menghadap ke dalam otak mempunyai permukaan yang kasar dan tajam. Ketika terjadi benturan, misalnya karena kecelakaan lalulintas atau ditendang dengan tendangan karate, atau –naudzu billah dibenturkan ke tembok, otak tidak bisa lari. Ia terpuruk dalam ruangan yang sempit. “Duri-duri” itu akan menusuk permukaan otak yang lembut. Terjadilah gegar otak, kata orang awam; atau konkusi, kata dokter. Konkusi sekecil apa pun tidak boleh dipandang remeh. Akibat buruknya bisa terjadi waktu itu juga; atau berangsur-angsur makin parah dalam perkembangan waktu.
Jadi apa yang harus kita lakukan? Bila Anda menderita gejala-gejala yang saya sebutkan di atas, ada baiknya ada minta ahli otak untuk menscan otak Anda. Apakah Anda menderita atau tidak menderita gejala-gejala itu, Anda harus memelihara dan melindungi otak Anda. Hindari tempat-tempat yang memungkinkan Anda jatuh. Pakai helm yang kuat ketika Anda mengendarai motor. Jangan lakukan olahraga atau latihan bela diri yang dapat mencederai kepala.
Kemajuan teknologi kedokteran dan farmakologi juga dapat membantu bukan saja memelihara kesehatan otak, tetapi juga mengembangkan dan meningkatkan kapasitas otak; supaya Anda lebih cerdas dan lebih bahagia. Buku yang Anda pegang sekarang ini ditulis untuk memperkenalkan Anda pada bagian dari diri Anda yang sekaligus menjadi jati diri Anda. Bukankah otak sebetulnya adalah software dari ruh Anda.
Tauhid Nur Azhar membawa kita berpesiar menjelajah otak dan menyaksikan cara kerjanya dalam berbagai dimensi kehidupan; sejak ketika kita berlari menghindari kecoa dan hantu, sampai ketika kita berkhidmat kepada sesama dan beribadat kepada Tuhan.
Setelah membaca pengantar saya ini dan memperoleh penjelasan lebih lanjut dalam buku ini, Anda pasti hanya punya satu pilihan: Syukuri otak, anugrah Tuhan yang menakjubkan ini, dengan merawatnya, menjaganya, melindunginya, dan mengembangkannya.
Wallahualam bissawab.
Subscribe to:
Posts (Atom)